Samudrapost.com – Mata uang rupiah kembali terjerembap ke zona merah pada perdagangan awal pekan ini. Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,33 persen ke level Rp17.394 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin, 4 Mei 2026.
Posisi ini melampaui level penutupan akhir pekan lalu yang berada di angka Rp17.337, sekaligus mencatatkan rekor kelemahan baru bagi mata uang Garuda.
Faktor Pemicu: Tekanan Energi dan Geopolitik
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, sebagaimana dikuti Kontan.co.id, menilai pergerakan rupiah saat ini masih berada dalam posisi yang rapuh. Menurutnya, ada empat sentimen utama yang menjepit nilai tukar domestik:
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
-
Harga Minyak Dunia: Konflik di Timur Tengah dan ketidakpastian di Selat Hormuz memicu kenaikan harga energi.
-
Suku Bunga AS: Kebijakan moneter The Fed yang diprediksi tetap ketat lebih lama dari ekspektasi pasar.
-
Beban Fiskal: Lonjakan harga minyak memperlebar subsidi dan kompensasi energi dalam negeri.
-
Permintaan Dolar Domestik: Tingginya kebutuhan korporasi untuk pembayaran impor, repatriasi dividen, dan biaya logistik global yang membengkak.
“Pelemahan rupiah bukan hanya karena dolar yang kuat, tetapi pasar melihat Indonesia menghadapi kombinasi tekanan energi, fiskal, dan arus modal,” ujar Josua sebagaimana dilansir Kontan.co.id, Senin, 4 Mei 2026.
Dua Skenario untuk Rupiah
Josua memproyeksikan rupiah sepekan ke depan akan bergerak di rentang Rp17.250 hingga Rp17.500 per dolar AS. Namun, arah pergerakan akan sangat bergantung pada dua skenario berikut:
-
Skenario Optimistis: Jika ketegangan di Selat Hormuz mereda dan harga minyak melandai di bawah US$100 per barel, rupiah berpeluang menguat ke area Rp17.000–Rp17.150 per dolar AS.
-
Skenario Pesimistis: Jika harga minyak terus melambung ke angka US115 per barel dan pasar menghindari aset negara berkembang, rupiah berisiko menembus level psikologis Rp17.500 per dolar AS.
Respons Bank Indonesia
Di tengah ketidakpastian ini, Bank Indonesia (BI) terus berupaya meredam volatilitas melalui intervensi di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), hingga pembelian SBN di pasar sekunder.
Meski cadangan devisa Indonesia masih tergolong kuat di level US$148,2 miliar, Josua mengingatkan bahwa langkah BI saat ini lebih berfungsi sebagai “rem” untuk menjaga agar pelemahan tidak liar, bukan untuk membalikkan arah tren secara instan.
“Rupiah baru bisa menguat meyakinkan jika ada dukungan faktor eksternal, terutama turunnya harga minyak dan kembalinya arus modal asing,” ucapnya.
Data Bank Indonesia mencatat, sepanjang kuartal I 2026, arus modal asing keluar bersih (net outflow) dari pasar domestik mencapai US$1,78 miliar, yang semakin menambah beban bagi stabilitas kurs rupiah.
Penulis : Agam













