Jakarta – Pemerintah Indonesia membuka peluang investasi proyek strategis tanggul laut raksasa (Giant Sea Wall) kepada sejumlah negara, termasuk China, Korea, Jepang, dan negara-negara Eropa.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan proyek senilai US$80 miliar (Rp1.298 triliun) ini akan dibangun secara bertahap dan menjadi prioritas utama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
“Proyek ini merupakan solusi jangka panjang untuk melindungi masyarakat pesisir utara Jawa dari dampak perubahan iklim dan penurunan permukaan tanah,” tegas Airlangga dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (9/9).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Untuk mempercepat realisasi, pemerintah telah membentuk Badan Otorita Pengelola Pantura yang bertugas merancang, membangun, dan mengelola infrastruktur pengaman pantai ini. Proyek yang masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) 2025-2029 ini direncanakan sejak 30 tahun lalu namun belum terealisasi.
Wakil Menteri Pekerjaan Umum Diana Kusumastuti mengungkapkan, desain teknis sedang disiapkan bersama badan otorita. “Kami menunggu arahan lebih lanjut dari otorita yang baru dibentuk untuk menentukan kelanjutan proyek,” ujarnya.
Pentingnya proyek ini didasarkan pada kondisi darurat di Jakarta yang mengalami penurunan tanah 10-25 cm per tahun akibat eksploitasi air tanah, diperparah oleh kenaikan permukaan air laut. Studi memperkirakan sebagian besar Jakarta Utara berpotensi tenggelam pada 2050 tanpa intervensi signifikan.
Kerugian ekonomi akibat banjir rob saat ini telah mencapai US$300 juta per tahun dan berpotensi meningkat dua kali lipat dalam dua dekade mendatang. Mengingat kontribusi Jakarta terhadap PDB nasional mencapai 17%, keberhasilan proyek ini dinilai krusial bagi stabilitas ekonomi Indonesia.
Penulis : Redaksi














