Lhokseumawe – Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) dosen Universitas Malikussaleh (Unimal) masih memberikan pendampingan dan pemantauan kepada para ibu di Desa Blang Cruem, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe. Pendampingan ini merupakan tindak lanjut dari pelatihan pengolahan sampah organik rumah tangga menjadi eco-enzyme, pupuk organik ramah lingkungan, yang digelar awal Agustus 2025 lalu.
Kegiatan bertajuk “Pemberdayaan Perempuan melalui Pemanfaatan Eco-Enzyme sebagai Katalis Ekonomi Sirkular dalam Mendukung SDGs” ini merupakan hasil kolaborasi Unimal dengan Layanan Berbasis Komunitas (LBK) Keumalahayati, sebuah lembaga yang fokus pada isu perlindungan dan pemberdayaan perempuan serta anak.
Nuraini Fatmi, Ketua Tim PKM Unimal, menjelaskan bahwa fokus kegiatan adalah memberikan edukasi dan pendampingan pemanfaatan limbah organik. “Ibu-ibu Desa Blang Cruem kami ajak mengubah sampah dapur menjadi produk yang memiliki nilai lebih,” ujarnya, Senin (22/9/2025).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Nuraini, produk eco-enzyme tak hanya menjawab persoalan kebersihan lingkungan, tetapi juga menyimpan potensi ekonomi dalam kerangka ekonomi sirkular. “Pemberdayaan perempuan melalui eco-enzyme ini diharapkan mendorong kemandirian ekonomi keluarga sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan,” tuturnya. Tim PKM yang beranggotakan Henni Fitriani, Nazaruddin, dan Alchalil itu memberikan pendampingan intensif agar peserta memahami seluruh proses dengan baik.
Program ini sejalan dengan visi LBK Keumalahayati. Nurul Salmi, Ketua LBK Keumalahayati, menekankan bahwa pelatihan ini bukan sekadar transfer keterampilan. “Melalui eco-enzyme, ibu-ibu mendapatkan bekal untuk meningkatkan taraf ekonomi keluarga secara berkelanjutan. Kami yakin pemberdayaan ini akan membawa dampak positif bagi desa dan mendukung tercapainya tujuan pembangunan berkelanjutan atau SDGs,” ungkap Nurul.
Dukungan juga datang dari pemimpin setempat. Ibu Keuchik Blang Cruem yang hadir dalam kegiatan menyampaikan apresiasi. “Kami berterima kasih kepada Unimal dan LBK Keumalahayati. Ibu-ibu di desa mendapat keterampilan baru yang bisa membuka peluang usaha,” ujarnya.
Kegiatan yang didanai oleh Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi tahun 2025 ini diharapkan dapat memperkuat peran perempuan desa sebagai agen perubahan dalam mencapai SDGs, khususnya pada tujuan kesetaraan gender, pertumbuhan ekonomi, serta konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.
Mengenal Eco-Enzyme: Cairan Serbaguna dari Sampah Dapur
Eco-enzyme adalah larutan hasil fermentasi selama tiga bulan dari campuran limbah organik (sisa buah/sayuran), gula (gula merah atau molase), dan air. Cairan ini kaya akan enzim alami dan mikroorganisme menguntungkan.
Manfaatnya beragam:
-
Pembersih Alami: Dapat digunakan untuk membersihkan lantai, toilet, dapur, bahkan mencuci sayuran.
-
Pupuk Cair: Menyuburkan tanah dan tanaman.
-
Pengusir Hama: Efektif mengusir nyamuk dan kecoa.
-
Pereduksi Polusi: Dalam jumlah terkontrol, dapat membantu menetralisir bahan kimia di saluran air.
Cara pembuatannya relatif sederhana: dengan perbandingan 1 bagian gula, 3 bagian sampah organik, dan 10 bagian air. Campuran disimpan dalam wadah tertutup di tempat sejuk dan gelap selama 90 hari. Gerakan eco-enzyme mendukung gaya hidup ramah lingkungan dengan mengurangi sampah organik dan penggunaan bahan kimia rumah tangga.
Penulis : Agam














