BENER MERIAH – Syahrial Abadi, tokoh masyarakat Kecamatan Pintu Rime Gayo, nekat menjual sebidang tanah demi memperbaiki jalan dan jembatan Enang-Enang yang putus akibat bencana longsor November 2025 lalu. Kini, donasi yang masuk mencapai Rp1 miliar lebih.
Jalan nasional Bireuen-Aceh Tengah tertimbun longsor dan jembatan jatuh ke sungai karena pondasinya miring. Syahrial bersama warga awalnya menyewa alat berat untuk membersihkan jalan dan membuat jalur baru dengan turunan terjal ke arah jembatan.
“Waktu itu saya nangis terus, enggak ada uang saya. Saya jual kebun saya sedikit untuk memperbaiki Enang-Enang, habis itu saya pinjam uang orang,” ujar Syahrial kepada wartawan, sebagaimana dilansir Detik, Kamis (9/7/2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Donasi Mengalir, Aspal dan Dinding Penahan Dibangun
Setelah 10 hari bekerja, donasi mulai berdatangan. “Sampai kemarin kita menerima donasi Rp1 miliar lebih. Ini masih ada saldo berjalan Rp555 juta dan masih ada pekerjaan yang belum saya bayar,” katanya.
Dana itu digunakan mengaspal jalan, membuat dinding penahan longsor, beton di pinggir jalan, dan tempat berteduh. Alat berat masih bekerja memperbaiki aliran sungai.
Akses Terputus, Ekonomi Mati
Syahrial mengaku nekat membuka kembali jalan karena masyarakat Desa Arul Cincin dan Menderek harus memutar satu jam lebih jika ingin ke Bireuen atau Aceh Tengah. “Kalau mau bawa orang sakit, ibu hamil, anak sekolah itu sangat sulit. Jalan alternatif berlubang dan sempit,” jelasnya.
Perekonomian warga juga mati akibat terputusnya jalan. “Warga yang berkebun di seberang jembatan, dulu cukup setengah liter minyak, sekarang harus 3 liter. Ini menambah angka kemiskinan,” ujarnya.
Menteri PU Dody Hanggodo yang meninjau jembatan, Rabu (8/7), memastikan perbaikan lanjutan akan dilakukan. “Sekarang ini masih sistem sementara. Nanti akan dipasang lebih kuat lagi,” katanya. Jembatan hanya boleh dilintasi kendaraan roda dua dan mobil penumpang, bukan kendaraan barang.
Penulis : Redaksi














