Banda Aceh – Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) Muhammad Zulfadhli menggebrak panggung unjuk rasa di depan gedung dewan, Senin (1/9), dengan menawarkan untuk menandatangani tuntutan pemisahan Aceh dari Indonesia.
Tawaran itu disambut gemuruh teriakan “merdeka” dari ribuan massa yang memadati lokasi.
Politikus Partai Aceh yang akrab disapa Abang Samalangga itu awalnya hendak menandatangani pakta integritas berisi tujuh tuntutan aksi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, menangkap sentimen kuat massa, ia secara spontan menawarkan poin tambahan yang paling radikal: pemisahan Aceh.
“Atau mau tambah satu poin lagi, minta pisah saja Aceh dari pusat. Kalau tidak, biar saya tambahkan dan teken,” ujar Zulfadhli dengan suara lantang,sebagaima dikutip dari Suara.com, Selasa (2/9).
Tawaran itu memicu respons ledakan euforia dari pengunjuk rasa. Sebelumnya, massa telah menyodorkan tujuh tuntutan yang mencerminkan akumulasi kekecewaan terhadap kondisi politik dan sosial di Aceh.
Tuntutan tersebut meliputi reformasi total DPR RI dan DPRA, reformasi institusi Polri, penuntasan pelanggaran HAM, penolakan pembangunan batalyon baru, evaluasi perizinan tambang, pembebasan demonstran yang ditangkap, serta transparansi penggunaan Dana Otonomi Khusus (Otsus).
Zulfadhli lantas membacakan surat kesepakatan yang mengikat DPRA untuk mengawal seluruh tuntutan tersebut.
Selain tuntutan tertulis, sepanjang aksi para orator berulang kali menyuarakan keinginan agar Aceh merdeka dan mengibarkan bendera Bulan Bintang berdampingan dengan Merah Putih.
Penulis : Agam
Editor : M. Agam Khalilullah














