Wanita Cantik Asal Takengon, Lolos Konferensi ke 3 Negara, Butuh Dukungan Pemerintah Aceh

 Wanita Cantik Asal Takengon, Lolos Konferensi ke 3 Negara, Butuh Dukungan Pemerintah Aceh

Takengon – Mimpi perempuan cantik nan cerdas asal Takengon, Aceh Tengah satu ini hampir di ujung tanduk.


Tersisa tinggal menghitung hari antara bisa terbang atau harus mengubur angannya dalam-dalam untuk mengikuti konferensi di tiga negara mewakili Indonesia.

Adalah Elicia Eprianda, mahasiswa yang sejak lama bermimpi ikut program konferensi internasional ke luar negeri.


Perempuan yang haus akan pengetahuan ini merantau jauh-jauh dari Aceh menuntut ilmu ke Yogyakarta dan berkuliah di kampus UIN Sunan Kalijaga.

“Harapannya satu, bisa menjadi manusia dan SDM yang bermanfaat untuk Aceh dan untuk Indonesia ke depan,” ungkap Elicia kepada Serambinews.com, Minggu (31/7/2022)

Karena haus akan ilmu, Elicia mulai mencari-cari bagaimana cara bisa bertukar pikiran dan pengetahuan ke luar negeri.

Sejak awal menjadi mahasiswa di tahun 2020 lalu, ia sudah mencari-cari informasi untuk bisa mengikuti program Internasional dari kampus tempatnya berkuliah.

Pandemi Covid-19 sempat menghentikan langkah Elicia meraih mimpinya karena berbagai pembatasan di sejumlah negara.

Kegiatan-kegiatan yang khususnya diadakan di luar negeri pun ikut terhenti.

Meski demikian Elicia tak patah arang, ia tetap berusaha mempersiapkan diri meski belum tahu kapan pendaftaran akan dibuka.

Ia berusaha keras mengasah keterampilan berbahasa asing agar mendapatkan skor TOEFL yang tinggi untuk bisa mendaftar.

Elicia mengikuti berbagai kegiatan di kampus, termasuk menjadi MC/moderator di acara webinar dan seminar dosen untuk mengasah public speaking dan melatih mentalnya agar semakin percaya diri di depan umum.

“Selain itu saya juga berusaha membuat tulisan paper rencana proyek sosial sebagai salah satu syarat utama untuk mendaftar kegiatan Internasional ini,” kata Elicia.

Ia selalu meyakinkan dirinya sendiri bahwa Allah pasti membukakan jalan terbaik untuk setiap mimpi-mimpinya yang diperjuangkan dengan kerja keras dan doa.

Seiring pelonggaran pembatasan sosial, ia pun kembali berangkat ke Yogyakarta pada Oktober 2021 lalu sekaligus mencari tahu informasi ke Ketua Prodi hingga eksekutif mahasiswa terkait program ke luar negeri.

Titik terang tiba, Elicia mendapat kabar bahwa Konferensi Internasional Program Kalijaga International Student Mobility Award (KISMA) akan segera dibuka.

Baca juga :  Ini Dia Besaran Terbaru THR PNS 2022

KISMA 2022 merupakan program peningkatan kemampuan mahasiswa untuk beradaptasi dengan dunia akademik internasional.

Program tersebut diselenggarakan oleh International Office (IO) of UIN Sunan Kalijaga University in Yogyakarta.

IO adalah bagian dari manajemen yang bertugas membantu, mendorong dan memonitoring mahasiswa di berbagai kegiatan Internasional dan telah melakukan kerja sama dengan institusi serta universitas di berbagai negara.

Setelah menunggu sekian lama, program kegiatan internasional tersebut baru dibuka pada bulan Juni tahun 2022.

Dengan segala persiapan yang sudah diusahakan, mahasiswa asal Takengon ini mencoba memberanikan diri untuk mendaftar dengan harapan semoga dapat lolos pada dua tahap seleksi yang ditetapkan panitia.

Bisa lolos ke sana pun bukan pekerjaan mudah. Ia harus melewati sejumlah seleksi, bersaing dengan ratusan bahkan ribuan mahasiswa yang mendaftar.

Selang beberapa minggu dari pendaftaran, kabar baik pun tiba. Ia mendapat panggilan dari Ketua Prodi Sosiologi Agama dan diminta untuk menjumpai Wakil Dekan III Fakultas.

Di luar dugaan dan tanpa sepengetahuannya, ternyata Elicia mendapatkan rekomendasi langsung dari dekanan mewakili Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam mengikuti KISMA 2022.

Konferensi Internasional yang digelar di tiga negara itu yakni Malaysia, Singapura dan Thailand bakal dilaksanakan pada September 2022 mendatang.

Rasanya seperti mimpi, ia pun berkali-kali mengucap syukur karena mendapatkan kesempatan berharga tersebut.

Dalam konferensi ini, peserta akan berdiskusi mengenai isu-isu hingga peristiwa hangat yang terjadi di dunia.

Delegasi dari seluruh negara ASEAN berkumpul untuk mendiskusikan isu-isu terkini dan mencoba mengaplikasikannya ke lingkungan masing-masing.

Dalam diskusi tersebut, peserta yang menjadi delegasi dari suatu negara akan mewakili sesuai dengan kepribadian negara tersebut.

Dalam hal ini, Elicia yang merupakan perempuan asal Takengon itu mewakili Indonesia.

Dalam Agenda KISMA bertajuk International Student Conference – International Student Youth Forum 2022 University Trip, pihaknya akan kunjungan ke berbagai tempat di Malaysia, Singapura dan Thailand.

Di Malaysia, konferensi internasional digelar di UniKL, KBRI Kuala Lumpur, Institut Sosial Malaysia, KLCC Twin Tower, dan beberapa tempat lainnya.

Baca juga :  TNI Selamatkan Bayi Yang Terjebak Banjir Di Aceh Timur

Pihaknya akan berdiskusi mengenai isu-isu hingga peristiwa hangat yang terjadi di dunia mulai dari agama, politik, ekonomi dan sosial-budaya dari berbagai negara ASEAN.

Di Singapura, pihaknya akan berkunjung je Arabic Village Singapore, Masjid Sultan, Merlion Park, Marina Bay and Esplanade, dan beberapa tempat lainnya.

Elicia bersama rombongan akan berkunjung ke beberapa tempat untuk melihat kondisi sosial-budaya yang ada di negara ini.

“Mayoritas agama Islam di Singapura sangatlah sedikit yaitu sekitar 14,9 persen. Sehingga menjadi fokus perhatian kami bagaimana masyarakat muslim di sana beradaptasi dalam lingkungan yang mayoritas nonmuslim,” ungkapnya.

Selanjutnya di Thailand, Elicia akan berkunjung ke Sleeping Budha, Hai Yai Thailand, Tang Kuan Hill, Songkhla, dan beberapa tempat lainnya.

Elicia akan berkunjung ke berbagai tempat untuk melakukan survei terkait bagaimana kondisi ekonomi dan struktur kebudayaan yang dipengaruhi oleh agama yang dianut di sana.

Dari semua diskusi-diskusi, kunjungan, serta survey penelitian yang telah dilakukan tersebut, nantinya akan dituangkan dalam bentuk tulisan artikel jurnal untuk dipublikasi agar dapat dibaca oleh masyarakat luas.

“KISMA adalah jalan untuk mengembangkan skill dalam bersosial, mengutarakan pendapat, improving english skill dan mempromosikan Indonesia di mata Internasional,” ungkapnya.

Dari pengetahuan dan wawasan yang didapat setelah mengikuti konferensi internasional tersebut, ia bercita-cita membangun suatu komunitas sosial dengan mengajak dan merangkul putra-putri Gayo untuk bisa berkembang bersama.

Komunitas sosial tersebut akan menjadi wadah berbagi ilmu, pengalaman dan pengetahuan secara lebih luas lagi agar putra-putri Gayo lainnya dapat mengembangkan skill yang mereka dimiliki.

Melalui komunitas sosial tersebut, Elicia berharap akan lahir calon-calon penulis, peneliti, akademisi, sejarawan, entrepreneur, dan berbagai keahlian lainnya.

Kemudian dapat membangun semangat generasi penerus Bangsa Indonesia yang lebih baik lagi. “Terkhususnya untuk Aceh Tengah,” kata Elicia.

Terkendala Biaya

Jalan terjal kembali dihadapi, semua sudah beres kali ini tinggal masalah biaya.

Elicia bercerita, pihak fakultas kampusnya telah membantu sekitar 25 persen dari biaya akomodasi untuk perjalanan menuju ke tempat diselenggarakannya konferensi internasional tersebut.

Baca juga :  Kakek 71 Tahun Ini Tega Perkosa Tetangganya yang Masih Balita

“Butuh sekitar Rp 8,5 juta lagi,” kata mahasiswa asal Takengon itu.

Ia sudah berupaya di sekitaran Pemkab Aceh Tengah namun masih menemui jalan buntu.

Sedangkan batas akhir pembayaran yang diminta panitia yakni pada Jumat, 5 Agustus 2022 mendatang.

“Fakultas saya memberikan Rp 2,5 juta, namun dana tersebut belum mencukupi kebutuhan lainnya,” ungkap Elicia.

“Yang menjadi kekhawatiran saya adalah tidak bisa membayar kekurangan dana yang masih belum terpenuhi karena waktu pembayaran yang sudah semakin dekat,” keluhnya.

Untuk mewujudkan mimpinya, Elicia sangat mengharapkan dukungan dalam bentuk moril dan materil dari Pemerintah Aceh.

“Khususnya kepada bapak Pj Gubernur Aceh, serta berbagai pihak lainnya sebagai bentuk kepedulian terhadap dunia pendidikan. Saya sangat berharap bantuannya,” pungkas Elicia.

Prestasi Elicia Tak Diragukan Lagi

Sebelumnya perempuan asal Takengon ini pernah meraih medali emas pada kompetisi karya tulis ilmiah tingkat nasional atas temuannya berupa pengawet alami dari buah andaliman, untuk mencegah pembusukan pada ikan.

Medali emas tersebut dari Kompetisi bertajuk Online Science Project Competition (OSPC) yang digelar Indonesian Young Scientist Association (IYSA) di Bandung pada 2019 silam.

Masih dengan temuan yang sama, Elicia kembali berhasil meraih medali emas di tingkat internasional melalui kompetisi karya tulis ilmiah bertajuk International Young Scientists and Exhibition (IYSIE).

Ia menyingkirkan peserta utusan negara-negara se-ASEAN dalam kompetisi yang digelar Malaysia Young Scientist Organisation (MYSO) di Kuala Lumpur pada tahun 2019 itu.

Kemudian temuan Elicia lainnya yakni membuat setting spray dari buah andaliman dan lolos mewakili Indonesia di ajang Hong Kong Student Science Project Competition (HKSSPC) pada tahun 2019 lalu.

Namun dibatalkan dengan alasan karena dapat membahayakan peserta, kebetulan saat itu gelombang pandemi Covid-19 sedang tinggi-tinggi di Hong Kong.

Demikian cerita Elicia, perempuan cerdas asal Takengon, lolos konferensi internasional ke tiga negara, namun terkendala biaya dan butuh sedikit uluran tangan Pemerintah Aceh.[Aceh.Tribunnews]

 

 



Dapatkan update berita terbaru setiap hari dari Samudrapost.com. Ayo bergabung di Grup Telegram "Samudra Post", caranya klik link https://t.me/samudrapost, kemudian join. Install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel, dan nikmati berbagai kemudahannya !


Facebook Comment

Berita terkait