Semua Harga Naik! ‘Tsunami’ Inflasi Jadi ‘Tsunami’ Derita

 Semua Harga Naik! ‘Tsunami’ Inflasi Jadi ‘Tsunami’ Derita

Jakarta – Setelah pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19) mereda, ternyata hidup rakyat Indonesia belum bisa tenang. Kini rakyat dihadapkan kepada tantangan baru: kenaikan harga barang dan jasa.
Adalah perang Rusia-Ukraina yang membuat situasi menjadi rumit. Masalahnya, Rusia dan Ukraina adalah adalah produsen utama sejumlah komoditas, baik migas, tambang, hingga pangan.


Perang Rusia-Ukraina menyebabkan harga komoditas melonjak, salah satunya minyak. Maklum, Rusia adalah salah satu produsen minyak utama dunia. Perang tentu menyebabkan produksi dan distribusi minyak terhambat.

Selain itu, serbuan ke Ukraina juga membuat Rusia terkena sanksi ekonomi. Amerika Serikat (AS) sudah melarang impor minyak dari Negeri Beruang Merah. Negara-negara Eropa pun tengah mempertimbangkan kebijakan yang sama.


Akibatnya, pasokan minyak di pasar dunia jadi seret. Wajar kalau harga melesat.

Tidak hanya minyak, harga batu bara pun melesat. Sebab, Rusia adalah salah satu produsen utama baru bara dunia.

Mengutip data International Energy Agency (IEA), produksi batu bara Rusia pada 2021 adalah 397 juta ton. Rusia menjadi produsen nomor enam dunia.

Uni Eropa sudah mengumumkan rencana ‘mengharamkan’ batu bara Rusia. Larangan berlaku penuh mulai pertengahan Agustus mendatang.

Hasilnya seperti minyak, harga batu bara melambung jauh terbang tinggi karena persepsi keketatan pasokan. Sejak akhir 2021 (year-to-date/ytd), harga batu bara di pasar ICE Newcastle meroket 109,39% secara point-to-point.

Baca juga :  Remaja di Lampung Pergoki Lelaki Lain di Kamar Ibunya dalam Kondisi Telanjang

Saat harga komoditas di pasar dunia naik, Indonesia ikut kena imbasnya. Maklum, Indonesia adalah negara net importir minyak. Produksi dalam negeri belum bisa mencukupi permintaan, sehingga terpaksa impor. Nah, sekarang impor minyak jadi mahal karena harga naik.
Per 1 April 2022, PT Pertamina (Persero) resmi menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax. Nantinya, kemungkinan besar akan disusul oleh kenaikan harga Pertalite dan Solar alias minyak diesel.

Kenaikan harga Pertamax mungkin dampaknya tidak signifikan. Sebab konsumsi Pertamax relatif kecil, sekitar 12% dari total konsumsi BBM.

Akan beda ceritanya kalau harga Pertalite yang naik. Konsumsi Pertalite mencapai 62% dari total konsumsi BBM nasional.

“Strategi menghadapi dampak kenaikan harga minyak dunia, untuk jangka menengah akan dilakukan penyesuaian harga Pertalite, minyak Solar, dan mempercepat bahan bakar pengganti seperti Bahan Bakar Gas (BBG), bioethanol, bio CNG, dan lainnya,” ungkap Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif dalam Rapat Kerja dengan Komisi VII DPR RI, Rabu (13/04/2022).

Baca juga :  Polisi Panggil Ketua Panitia Pernikahan Putri Rizieq Shihab

Mengutip kajian Bank Mandiri, kenaikan harga Pertalite hingga 10% bisa menyumbang inflasi sebesar 0,32 poin persentase (ppt). Sementara itu, kenaikan harga Elpiji 3 kg hingga 10% bisa mendongrak inflasi sebesar 0,35 ppt.

Riset Citi menyebut inflasi pada kuartal II-2022 akan berada di rentang 2,5-3,5% yoy. Laju inflasi akan didorong oleh kenaikan harga BBM, minyak goreng, dan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Ditambah lagi ada faktor peningkatan permintaan (demand-pull inflation) saat Ramadan-Idul Fitri.

Untuk semester II-2022, Citi memperkirakan inflasi bisa melampaui batas atas 4% dari proyeksi BI. Pada akhir tahun, Citi ‘meramal’ inflasi Indonesia bisa menyentuh 4,4%.

“Kami memperkirakan BI akan menaikkan suku bunga acuan satu kali sebesar 25 basis poin pada kuartal IV-2022. Dilanjutkan dengan kenaikan dua kaii masing-masing 25 basis poin pada semester I-2023 dengan asumsi inflasi semakin terakselerasi di atas target,” sebut riset Citi.

Bagi rakyat miskin, inflasi adalah musuh utama. Apalagi kalau yang mengalami inflasi adalah bahan pangan.
Pada September 2021, garis kemiskinan ada di Rp 486.168/kapita/bulan. Dari jumlah tersebut, Rp 360.007 (74,05%) adalah untuk membeli makanan.

Baca juga :  Eks Tripoli Mengadu ke Apa Karya

Beberapa komoditas pangan yang banyak dikonsumsi oleh rakyat miskin di antaranya adalah beras, telur ayam ras, daging ayam ras, dan gula pasir. Produk olahan seperti tempe, tahu, roti, dan mie instan juga banyak dikonsumsi.

Secara langsung, konsumsi bensin masyarakat miskin memang minim, hanya sekitar 3% terhadap garis kemiskinan. Namun kalau harga bensin naik, maka biaya logistik dan distribusi akan ikut naik sehingga harga produk makanan mengikuti. Inilah yang disebut dampak putaran kedua (secound round effect) dari kenaikan harga bensin.

Apabila harga-harga terus mahal, maka penderitaan rakyat miskin akan memuncak. ‘Tsunami’ air mata penderitaan akan berubah menjadi kemarahan. Saat kemarahan itu sudah tidak terbendung, maka hasilnya adalah keresahan sosial (social unrest).

Maurice Obstfeld dari Peterson Institute for International Economics, yang juga mantan Kepala Ekonom Dana Moneter Internasional (IMF), menyebut bibit keresahan sosial bukan sesuatu yang dibesar-besarkan. Saat harga makanan semakin mahal, pertumbuhan ekonomi melambat, penciptaan lapangan kerja menyempit, itu adalah ‘badai yang sempurna’.

“Ada banyak penyebab yang bisa menciptakan keresahan sosial dalam skala besar,” tegas Obstfeld, seperti dikutip dari New York Times.[CNBC Indonesia]

 

 

 



Dapatkan update berita terbaru setiap hari dari Samudrapost.com. Ayo bergabung di Grup Telegram "Samudra Post", caranya klik link https://t.me/samudrapost, kemudian join. Install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel, dan nikmati berbagai kemudahannya !


Facebook Comment

Berita terkait