Berapa Harga Pesawat Seulawah yang Dibeli Dari Sumbangan Rakyat Aceh?

 Berapa Harga Pesawat Seulawah yang Dibeli Dari Sumbangan Rakyat Aceh?

Pesawat Seulawah saat mengangkut pasukan Pemerintah Birma di Rangoon

Provinsi Aceh memang dikenal sebagai daerah modal, bahkan nama itu bukan dikenal sejak terjadinya ekspor gas alam pertama dari Arun, Lhokseumawe ke Jepang pada tahun 1978, namun sudah dikenal sejak masa Revolusi Kemerdekaan.


Sebagaimana dikutip dari buku Pertamina Peduli Pembangunan Daerah Istimewa Aceh menyebutkan, kala itu keberadaan Negara Republik Indonesia sedang terancam akibat Agresi Belanda yang terjadi pada 21 Juli 1947 dan 19 Desember 1948.

Meskipun demikian, masyarakat Aceh mampu memberikan dukungan yang besar bagi Negara Indonesia yang baru saja diploklamirkan tersebut. Peran dan dukungan bagi kelangsungan negara, serta persatuan bangsa oleh masyarakat terus dipertahankan secara berkesinambungan. Kenyataan sejarah membuktikan, Aceh merupakan satu-satunya wilayah yang tidak dapat diduduki Belanda.


Baca juga :  Para Prajurit Janda Aceh

Terhitung dari tanggal 15 hingga 20 Juni 1948, Presiden Soekarno ketika itu melakukan kunjungan kerja ke Banda Aceh, tujuannya adalah untuk melakukan konsolidasi dan sekaligus meminta dukungan dari masyarakat Aceh.

Dalam pertemuan dengan saudagar-saudagar Aceh, yang tergabung dalam Gabungan Saudagar Indonesia Daerah Aceh (Gasida) di Hotel Kutaraja tanggal 16 Juni 1948, Presiden Soekarno meminta saudagar Aceh bersedia membeli sebuah pesawat Dakota dengan harga M $ 120.000 per unit, yang dibutuhkan oleh negara untuk misi diplomatik luar negeri.

Baca juga :  Soekarno: Nabi Sendiri Sekalipun, tak Kan Sanggup Menyuruhku…

Permintaan Presiden Soekarno mendapatkan tanggapan positif dari pengusaha Aceh, yang waktu itu melakukan aktivitas perniagaan ekspor impor dengan semenanjung Malaya. Gasida menunjuk T. M. Ali Panglima Polim sebagai ketua pengumpulan dana di Banda Aceh.

Sementara T. Manyak, Kepala Perwakilan NV. Permai Pulau Penang, sebagai penggalang dana pengusaha Aceh disana. Dalam tempo dua bulan, panitia dapat mengirimkan dana sebesar M $ 260.000 Straits Dollar.

Baca juga :  Pesantren sebagai Laboratorium Perdamaian

Dana tersebut diterima oleh Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Komodor Suryadarma di Yogyakarta dan Wiweko di Rangoon. Pesawat Dakota itu diberinama Seulawah dan menjadi cikal bakal pesawat AURI dan Garuda Indonesia.

Sebagai ungkapan terimakasih atas bantuan rakyat Aceh, maka pada tahun 1984, Direktur Utama Garuda Indonesia Airways, Wiweko telah menyerahkan replika pesawat Dakota kepada Pemerintah Aceh. Kini berada di lapangan Blang Padang, Banda Aceh.



Dapatkan update berita terbaru setiap hari dari Samudrapost.com. Ayo bergabung di Grup Telegram "Samudra Post", caranya klik link https://t.me/samudrapost, kemudian join. Install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel, dan nikmati berbagai kemudahannya !


Facebook Comment

Berita terkait