Respon Masyarakat Aceh Utara Ketika Pertama Sekali Ditemukan Ladang gas

 Respon Masyarakat Aceh Utara Ketika Pertama Sekali Ditemukan Ladang gas

Semua itu berawal dari kehadiran kenderaan roda empat di balai desa, beberapa waktu silam. Maklumlah selama ini tak pernah ada mobil kesana, para penumpang disambut oleh kepala desa dengan rasa hormat. Lalu mereka diantar oleh kepala desa dan para tetua mukim, bersama ke suatu tempat.


Teramat jarang tamu resmi singgah ke kampung Arun. Tapi sejak itu orang-orang dari luar lebih sering berkunjung. Teungku pun ikut sibuk dan acap kali terlihat bersama-sama kepala desa bermusyawarah.

Akhirnya dari mulut ke mulut, dari bisik-bisik orang pun mulai mahfum, bahwa harta karun yang terkandung di bawah tanah tempat pijak mereka akan diangkat. Kabar burung mulai tersebar, para tengkulak yang datang dan pergi dari desa ke desa turut meniupkannya.


Juga sanak family dan handai taulan para warga desa ikut meramaikannya. Kini yang datang ke Arun bukan hanya para pejabat pemerintahan atau petugas petgas perminyakan, melainkan juga para kerabat atau kenalan dekat warga desa, yang ingin tahu apa sesungguhnya yang terjadi disana.

Baca juga :  Ada yang Lebih Ngeri dari Covid-19, Tokoh Agama Mulai Turun Tangan

Di mata para penduduk kian tampak semakin sering kehadiran tamu dan pada suatu hari, penduduk dikejutkan oleh suara gemuruh disertai angin berpusing-pusing di suatu tanah datar. Sosok burung raksasa turun dari langit, dengan sayapnya yang berputar membaling disertai deruan dasyat.

Seumur hidup mereka tak pernah warga desa menyaksikan cercah burung aneh yang turun dari langit itu. Mereka lebih heran lagi, ternyata bagai dongeng, burung raksasa itu ditumpangi oleh beberapa orang bule.

Bar kali itu penduduk Arun melihat dari dekat pesawat heli mendarat. Selama ini mereka hanya bisa menyaksikan kapal terbang melintas di udara pada ketinggian yang tak terjangkau oleh lemparan panah atau lembing.

Akan tetapi menatap benda itu turun ke bumi dan menderu-deru, sama sekali pun belum pernah. Maka orang kampung pun berduyun-duyun menyaksikan tontonan aneh itu, bahkan ada warga kampung seberang yang karena ingin tahu mereka sangat besar, jauh-jauh datang ke Arun membawa bekal nasi dan lauk, untk menyaksikan benda ajaib itu. Sayang ketika mereka sampai, pesawat heli itu sudah terbang lagi meninggalkan tempat pendaratan.

Baca juga :  Lhokseumawe Mulai Terapkan Istilah Baru Dalam Penanganan Covid-19

“Waktu itu saya masih SMP Lhoksukon, tinggal di Kedai Nibong, beebatasan kampung dengan Arun. Mendengar ada kesibukan saya pun ingin tahu. Ternyata disini banyak orang asing, desas-desus beredar, daerah ini mengandung sumber energy. Saya membayangkan kelak daerah ini akan berkembang. Saya tidak tahu apakah remaja lainnya juag berpikir begitu. Soalnya di desa ini cuma ada SD. Untuk masuk SMP harus ke Lhoksukon,” kenang Anwar Iska, Humas Mobil Oil Lhoksukon kala itu.

Begitulah beberapa paragraf yang dikutip dari buku berjudul Pancaran Rahmat Dari Arun, yang ditulis oleh Sugiono MP, diterbitkan oleh Public Relations PT Arun NGL Co., Lhokseumawe, Aceh Utara, tahun 1997.

Arun merupakan sebagai sebuah desa yang berada di Kecamatan Syamtalira Aron, Kabupaten Aceh Utara, berada di sebelah tenggera Kota Lhokseumawe. Dulu hanya sebagai desa terpencil dan kini menjadi gemerlap.

Baca juga :  Sirine Tsunami di Palabuhanratu Bunyi, BPBD Perintahkan Ini

Dulunya warga desa tersebut hidup dari hasil pertanian, pemeliharaan ternak dan berdagang. Lahanya sangat subur sekali, dalam satu tahun bisa panen padi sebanyak dua kali. Begitu juga bagi pemilik ternak seperti lembu, cukup melepaskan saja karena memang banyak rerumputan yang bisa dimakan.

Pada tahun 1968, Mobil Oil mulai melakukan kontrak bagi hasil Pertamina, dalam hal untuk melakukan pencairan sumber minyak yang berada di perut bumi maupun lepas pantai Aceh Utara itu.

Memasuki tahun 1969, Mobil Oil juga mulai fokus pada Aceh Utara, awalnya direncanakan wilayah tersebut hanya menjadi perluasan eksplorasi tambang minyak Asamera, namun karena Asamera belum siap, sehingga Pertamina menyerahkan kepada Mobil Oil.

Ladang gas tersebut sempat menjadi sebagai lading gas terbesar di dunia dan sekarang kondisinya tidak seindah seperti dulu. Semoga kedepannya bisa kembali menemukan cadangan Migas di sejumlah wilayah Aceh dan bisa memberikan kesejahteraan kepada masyarakat.[Agam]

Komentar Facebook

Berita terkait