PLN Berpotensi Hasilkan Hampir 1 Miliar Ton Emisi Karbon pada 2060

 PLN Berpotensi Hasilkan Hampir 1 Miliar Ton Emisi Karbon pada 2060

Jakarta – PT PLN berpotensi menghasilkan emisi karbon dioksida (CO2) mencapai 916 juta ton karbon dioksida ekuivalen (CO2e) hingga 2060.


Jumlah emisi mendekati satu miliar CO2e apabila perusahaan setrum pelat merah ini tidak melakukan upaya pengurangan emisi karbon sama sekali. Direktur Mega Proyek dan Energi Baru Terbarukan Wiluyo Kusdwiharto mengatakan lembaganya telah berupaya untuk menghasilkan listrik bersih.

Salah satunya dengan mengurangi emisi karbon yang sangat signifikan. “Di sini kami punya target bahwa 2060 bila kita tidak melakukan apa-apa maka diproyeksikan akan ada 916 juta ton CO2 yang dihasilkan dari pembangkit pembangkit kami,” kata Wiluyo dalam Oil & Gas Tech Talk with ASPERMIGAS, Kamis (18/11).


Baca juga :  Ada Kejanggalan Janda di Cianjur yang Mengaku Hamil Akibat Angin

Oleh karena itu, PLN mempunyai target untuk memproduksi listrik bersih pada 2060. Meski demikian dalam implementasinya membutuhkan usaha ekstra. PLN berencana menurunkan emisi karbon secara bertahap sesuai target.

Di mana gap pada 2060 ditutup dengan program nature based offsets seperti penanaman mangrove dan upaya lainnya. Adapun inisatif yang dilakukan PLN dalam rangka menekan emisi karbon salah satunya yakni dengan menerbitkan green RUPTL 2021-2030.

Dalam RUPTL tersebut pihaknya menargetkan penambahan kapasitas pembangkit sebesar 40,6 gigawatt (GW), dimana porsi pembangkit EBT sebesar 20,9 GW. Sedangkan sisanya 19,7 GW merupakan pembangkit yang bersumber dari energi fosil.

“Ini bukan pembangkit baru tapi merupakan pembangkit lama. Ini proyek lanjutan dan tidak mungkin kami memutus kontrak,” kata dia. Selain itu, PLN juga akan menggenjot program co-firing atau pencampuran biomassa dengan batu bara. Rencanya 52 pembangkit ditargetkan akan mengimplementasikan program ini dengan campuran biomassa sebanyak 5%-10%.

Baca juga :  Ini Cara Peroleh Token Listrik Gratis di Bulan Mei

PLN juga akan melakukan program konversi pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) ke pembangkit EBT. Adapun PLTD yang akan dikonversi mencapai 5200. “Di tahap pertama tahun ini dan tahu depan sekitar 200 lokasi dengan total kapaistas 250 MW, ini akan kami konversi menjadi pembangkit EBT,” ujarnya.

Tak hanya itu, PLN juga akan menggunakan teknologi Carbon Capture and Storage alias CCS pada pembangkitnya. Teknologi ini diyakini dapat menangkap emisi karbon yang dikeluarkann dari pembangkit berbahan bakar batu bara.

Baca juga :  Hingga Akhir 2021, Pemerintah Perpanjang Diskon Listrik

“Kami juga sedang bangun pembangkit Ultra Supercritical dan juga kami rencanakan 2030 ke atas kami akan pensiunkan PLTU kami yang sudah tua,” ujarnya. Agar optimal, maka pengembangann EBT harus mempertimbangkan berbagai hal.

Misalnya seperti kebutuhan, sumber daya yang tersedia, dan tidak mengganggu sistem. Selain itu akselerasi EBT juga untuk memacu perekonomian wilayah dengan sasaran seperti 3T, daerah isolated, dan konversi pembangkit diesel. Kemudian, pengembangan potensi EBT yang besar juga harus mempertimbangkan ketersediaan demand, sehingga terbentuk harmonisasi supply-demand.[Katadata.co.id]

Komentar Facebook

Berita terkait