Ibu Dua Anak di Langsa Sering Tidak Makan Karena Tidak Ada Uang

 Ibu Dua Anak di Langsa Sering Tidak Makan Karena Tidak Ada Uang

Langsa – Potret kemiskinan di Aceh kian hari kian memperihatinkan, seperti dikabarkan dari Kota Langsa, seorang ibu berstatus janda miskin mengaku sering tidak makan bersama dua anaknya yang masih bocah. Mirisnya mereka tinggal di hunian yang mirip kandang.


Sakdiah, dan dua anaknya Dara (9) dan Zaitun (10 bulan) tinggal di Gampong Lhok Banie, Kecamatan Langsa Barat, Kota Langsa. Awalnya ia huni gubuk dengan alas tanah. Karena sering pasang air laut, akhirnya dia bangun rumah panggung setinggi dua meter dengan material kayu seadanya.

Tidak ada kamar atau sekatan ruang, satu ruang dijadikan tempat tidur, ruang duduk dan sebagainya. Sedangkan satu ruang agak menjorok keluar dijadikan dapur sekaligus ruang untuk mandi.


Tanpa atap, bila hujan, Sakdiah tidak bisa memasak. Suami telah meninggal dunia setahun lalu, sejak itu ia terpaksa banting tulang untuk mencari nafkah sebagai pencari kerang di tepi pantai dan di perairan payau. Apalagi sejak kerang mulai tak banyak lagi, Sakdiah makin susah.

Baca juga :  Ketika Anak Presiden Jokowi Tidak Malu Jualan Sabun Mandi

Sehari ia hanya dapat Rp 20 ribu. Sesekali ia nyambi jasa setrika baju tetangga, itupun kalau diminta, dengan upah tak jauh beda Rp 20 sampai 30 ribu. “Karena seperti itu, saya dan anak-anak sering tahan lapar, karena tidak ada makanan, tak ada uang,” ucap Sakdiah kepada relawan ACT Kota Langsa, Furqan yang menyambangi kediamannya pada Jum’at (19/11/2021).

Sakdiah mengaku malu meminta bantu ke tetangga, karena sering tidak ada makanan. Ia lebih memilih menahan lapar dan berdiam di dalam rumah bersama dua anaknya.

“Malu, jadi daripada merepotkan orang lain saya memilih diam dan berusaha sebisanya,” katanya lagi dengan nada sedih.

Ia mengaku tidak tau lagi makanan enak, karena setiap hari hanya mampu membeli beras dan ikan asin. Itupun ikan asin yang dibuat sendiri dengan dijemur di rumah. biasanya ia hanya mampu beli beras untuk satu dua hari makan.

Baca juga :  Lokakarya di Unimal, Plt Gubernur Aceh Ajak Kampus Berkolaborasi Lahirkan SDM Unggul

Ia juga mengaku sangat sedih, anaknya Dara terpaksa putus sekolah buah hatinya itu hanya sampai di kelas 3 SD.

“Tahun lalu dia putus sekolah, saya tak punya uang untuk beli baju, peralatan sekolah dan barang lainnya, untuk makan saja sudah susah begini, saya tak tahu harus berbuat apa,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Diakhir wawancara dengan Furqan, ibu Sakdiah bercerita dulu dia punya seorang anak lelaki, meninggal dunia beberapa tahun lalu, karena sakit dan tidak punya biaya berobat. Ia terpaksa meninggalkan putranya dalam kondisi sakit di rumah sendirian.

Waktu itu Sakdiah terpaksa mencari kerang karena di rumah tidak ada lagi makanan. “Andai waktu itu saya punya sedikit uang bisa bawa dia berobat sebelum parah, dan tak harus bekerja,” katanya sambil terisak.

Baca juga :  Cewek MiChat Hajar Pelanggan yang Diduga Oknum Satpol PP Karena Kurang Bayar

Sementara Aksi Cepat Tanggap (ACT) Kota Langsa, Furqan mengatakan Sakdiah adalah potret kemiskinan sangat menyedihkan dan luput dari pandangan banyak pihak. Ia telah menghabiskan waktu bertahun-tahun hidup dalam serba kekurangan.

Oleh karena itu, Aksi Cepat Tanggap Langsa berupaya mengajak semua Sahabat Dermawan yang ada di mana saja untuk ikut membantu memenuhi biaya kehidupan ibu Sakdia dan keluarga.

“Silahkan berikan sedekah terbaik anda melalui rekening Aksi Cepat Tanggap Langsa (BSI #7164169067) dan konfirmasi ke 0822 9720 7127 atau DM Instagram @act_langsa. Bisa juga diantar langsung ke kantor ACT Langsa yang berlamat di Jl. Lilawangsa, No.17, Paya Bujok Tunong. Langsa Baro, Kota Langsa,” pungkas Furqan.[Antero]

Komentar Facebook

Berita terkait