Berton-Ton Es Greenland Mencair, Ini Dampaknya ke Indonesia

 Berton-Ton Es Greenland Mencair, Ini Dampaknya ke Indonesia

Jakarta – Sebuah laporan terbaru menyebutkan bahwa 3,5 triliun ton lapisan es yang berada di Greenland telah mencair dalam 40 tahun terakhir. Hal ini diakibatkan oleh perubahan iklim yang menaikkan suhu di Bumi.


Mengutip AFP, laporan yang ditayangkan di jurnal Nature Communications, para peneliti mengatakan bahwa limpasan air lelehan Greenland telah meningkat sebesar 21%. Bahkan, sepertiga dari es yang hilang dalam dekade terakhir datang hanya dalam dua musim panas di tahun 2012 dan 2019

“Seperti yang telah kita lihat dengan bagian lain dunia, Greenland juga rentan terhadap peningkatan peristiwa cuaca ekstrem,” kata Thomas Slater, dari Pusat Pengamatan dan Pemodelan Kutub Universitas Leeds dan penulis utama laporan tersebut dikutip Senin (1/11/2021).


Baca juga :  Ibu di Aceh Gorok Bayinya Hingga Tewas Karena Sering Sakit

“Saat iklim kita menghangat, masuk akal untuk berharap bahwa contoh pencairan ekstrem di Greenland akan lebih sering terjadi.”.

Penulis tersebut menambahkan bahwa data satelit menjelaskan kemungkinan berapa banyak es yang hilang serta peningkatan permukaan air laut pada tahun tertentu.

“Perkiraan model menunjukkan bahwa lapisan es Greenland akan berkontribusi antara 3-23 cm terhadap kenaikan permukaan laut global pada tahun 2100,” kata rekan penulis Amber Leeson, dosen senior Ilmu Data Lingkungan di Universitas Lancaster Inggris.

“Perkiraan limpasan antariksa baru ini akan membantu kita untuk memahami proses pencairan es yang kompleks dengan lebih baik … dan hanya memungkinkan kita untuk memperbaiki perkiraan kenaikan permukaan laut di masa depan.”

Baca juga :  Dandim 0103/Aceh Utara Tinjau Pelaksanaan Vaksin

Sementara itu, naiknya permukaan air laut juga mulai memberikan ketakutan bahwa beberapa negara kepulauan di Pasifik akan tenggelam. Laporan dari Panel Antar-pemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) menemukan bahwa dunia mungkin memanas hingga 1,5°C pada awal 2030-an. Kenaikan ini disebut sangat mengancam negara-negara kepulauan di Samudera Pasifik

“Dengan meningkatnya suhu di atas 1,5°C, masyarakat Pasifik kemungkinan besar akan mengalami dampak perubahan iklim yang semakin menghancurkan,” ujar Profesor Mark Howden, wakil ketua Panel Antar-pemerintah tentang Perubahan Iklim dan direktur Institut Solusi Iklim, Energi & Bencana di Universitas Nasional Australia.

Baca juga :  Antisipasi Corona, Wali Kota Lhokseumawe Pimpin Penyemprotan Disinfektan Seluruh Kota

Tak hanya Pasifik, ancaman perubahan iklim juga dialamatkan ke Indonesia. Hal ini diingatkan oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden beberapa bulan lalu. Biden menyebut bahwa Jakarta bisa tenggelam dikarenakan perubahan iklim yang saat ini sedang menghantui seluruh dunia.

“…Apa yang terjadi di Indonesia jika proyeksinya benar bahwa, dalam 10 tahun ke depan, mereka mungkin harus memindahkan ibu kotanya karena mereka akan berada di bawah air?”[CNBC Indonesia]

Komentar Facebook

Berita terkait