Sejak Tahun 1901, Aceh Timur Sudah Mampu Memproduksi Minyak Secara Komersial

 Sejak Tahun 1901, Aceh Timur Sudah Mampu Memproduksi Minyak Secara Komersial

Penjajakan Sumur Ieu Tabue, Rantau Panjang yang dilakukan oleh PSC perta,a Asamera Oil Ltd, disaksikan oleh Direktur Permina, Bupati Aceh Timur kala itu dan Kepala Lapangan Julok Rayeuk / Rantau Panjang | Foto Arsip Samudrapost.com

Perusahaan Holland Perlak Mij, NV. Petroleum Mij Zaid Perlak melakukan eksplorasi di Rantau Panjang, Landsehap Peureulak, Aceh Timur. Minyak yang mereka temui di daerah ini sejak tahun 1900 dialirkan dengan pipa sepanjang 130 km ke kilang BPM di Pangkalan Brandan untuk disuling atau ke pelabuhanS Pangkalan Susu dan diekspor ke luar negeri.


Sebagaimana dikutip dari buku yang berjudul Pertamina Peduli Pembangunan Daerah Istimewa Aceh, yang diterbitkan pada tahun 2001 menyebutkan, aktivitas perminyakan Aceh yang sejak saat itu bergabung dengan pendahulunya di daerah Langkat memulai kegiatannya dan berproduksi secara komersial, pada bulan Agustus 1901 produksi minyak di Rantau Panjang mencapai 240.250 liter dan meningkat menjadi 68.807 ton pada tahun 1909.

Baca juga :  Beredar Foto dan Rekaman Video Call Panas, Diduga Istri Kepala Desa Di Aceh

Keberhasilan eksplorasi di Peureulak itu rupanya mendorong berbagai perusahaan lain untuk mengadu untung dalam perburuan ladang minyak di Aceh. Daerah eksplorasi minyak di Aceh tidak hanya dalam kawasan Landsehap Peureulak tetapi mulai menyebar ke landsehap-lansehap lain di wilayah Idi, Langsa dan Tamiang.


Di wilayah Langsa dan Idi antara tahun 1932-1934 tercatat 4 perusahaan yang melakukan eksplorasi pada areal 50.000 ha yaitu di Landsehap Serbajadi, Sungo Raya, Pendawa Rayeuk, Julok Rayeuk dan Idi Rayeuk. Di wilayah Tamiang eksplorasi pertama dilakukan di Rantau, Landsehap Keujuruen Muda pada bulan Pebruari 1929.

Minyak yang diproduksi di sana dialirkan ke Pangkalan Brandan melalui pipa sepanjang 62 km. Dengan demikian luas areal eksplorasi BPM pada tahun 1933 mencapai 415.000 ha yang 6/7 di antaranya terdapat di wilayah Tamiang.

Baca juga :  Indonesia Diminta Tampung Pengungsi Rohingya

Perluasan daerah eksplorasi tentulah berpengaruh pula terhadap volume produksi BPM pada kilang Pangkalan Brandan dan ekspor minyak mentah melalui Pangkalan Susu. Menurut catatan produksi kilang minyak di Pangkalan Brandan mencapai 1 juta ton per tahun menjelang Perang Dunia Il, sementara ekspor minyak dari Aceh pada tahun 1938 mencapai 705.650 m3.

Keuntungan ekonomis yang paling besar dari industri perminyakan ini tentulah masuk ke kantong perusahaan-perusahaan kapitalis, sementara Pemerintah Kolonial hanya memetik retribusi dari izin konsesi dan cukai harga penjualan minyak.

Demikian pula kas landsehap onderafdeling bersangkutan ikut memperoleh konsesi. Suatu dampak penting lainnya yang terjadi didaerah tersebut adalah munculnya kelompok profesi baru yang menggantungkan hidupnya dalam teknologi perminyakan di tengah-tengah masyarakat yang agraris tradisional. Mereka umumnya berasal dari luar daerah.

Baca juga :  Polisi Mulai Selidiki Janda Cianjur Yang Hamil Akibat Angin

Sebulan menjelang invasi serdadu Jepang yaitu dari tanggal 9 sampai dengan 11 Pebruari 1942, Pemerintah Kolonial Belanda membumihanguskan kilang minyak yang terdapat di daerah itu. Pembumihangusan itu dimaksudkan supaya Pemerintah Militer Jepang kelak tidak bisa memanfaatkannya untuk kepentingan Perang Asia Timur Raya.

Namun Pemerintah Militer Jepang yang berkuasa di Sumatera segera memperbalki kembali kilang minyak yang sudah menjadi puing-puing tersebut sambil mempekerjakan kembali teknisi/buruh bumi putera yang memang telah bekerja sebelumnya.

Komentar Facebook

Berita terkait

Redaksi menerima tulisan opini dan konten jurnalis wargaKirim
+