Sebelum Merdeka, Aceh Sudah Miliki Kilang Minyak di Paya Bujok Langsa

 Sebelum Merdeka, Aceh Sudah Miliki Kilang Minyak di Paya Bujok Langsa

Peresmian Kilang Minyak mini Julok Rayeuk oleh Ka PERMINA Lapangan Julok/ Rantau Panjang

Pada tahun 1943, Pemerintah Militer Jepang membangun pula sebuah kilang penyulingan dengan kapasitas 40 ton sehari di Paya Bujok, Langsa, Provinsi Aceh di samping kilang minyak Pangkalan Brandan yang memang sudah ada sebelumnya.


Dengan adanya kilang minyak tersebut, sehingga Aceh pertama sekali yang mengoperasikan kilang minyak itu, yang digunakan untuk keperluan militer Jepang. Sebuah kilang minyak lainnya dibangun di Julok Rayeuk sehingga distribusi BBM di Aceh semakin terjamin.

Terwujudnya Pemerintahan Republik Indonesia dalam bentuk Provinsi Sumatera tanggal 29 September 1945 dan Kresidenan Aceh tanggal 3 Oktober 1945 menimbulkan implikasi pula terhadap pengelolaan minyak di daerah ini yang sebelumnya sudah berada di tangan Pemerintah Militer Jepang.


Baca juga :  2 Kecamatan Terendam Banjir di Aceh Utara

Sebagai pihak yang kalah perang, Serdadu Jepang meninggalkan daerah Aceh pada tanggal 18 Desember 1945 yang berarti usaha eksplorasi dan produksi minyak di Aceh Timur ditinggalkan dan terbengkalai.

Dalam situasi seperti itulah Abdul Rahman pada tanggal 1 Januari 1946 mengorganisir kembali pekerja-pekerja minyak di Aceh Timur dalam wadah baru, yaitu Tambang Minyak Republik Indonesia (TMRI), yang merupakan badan usaha milik Republik yang berpusat di Langsa dan mengambil alih seluruh sarana perminyakan di Aceh.

Baca juga :  Ini Jadwal Seleksi Kompetensi Dasar CPNS di Aceh

Perusahaan itu mulai memproduksi bensin dan minyak tanah untuk memenuhi kebutuhan konsumen di daerah Aceh dan juga untuk luar daerah. Sementara itu minyak di Pangkalan Brandan baru pada bulan Juli 1946 diserahkan oleh Jepang atas nama sekutu kepada  Residen A. Karim MS mewakili Gubernur Sumatera.

Revolusi kemerdekaan yang sedang bergelora waktu itu berpengaruh pula terhadap organisasi dan bidang kegiatan TMRISU. Kilang minyak TMRISU Pangkalan Brandan, oleh para perjuang Republik dibumihanguskan pada tanggal 13 Agustus 1947, dua minggu setelah Belanda melakukan Agresi Militer I.

Baca juga :  Liga Santri Nasional, Langkah Al Azhar Aceh Terhenti

Akibatnya sebagian besar pekerja minyak di tempat itu bersama puluhan ribu pengungsi Sumatera Timur lainnya terpaksa hijrah ke Kota Langsa, sehingga kala itu kegiatan eksplorasi dan produksi minyak hanya memiliki aktivitas di wilayah Aceh Timur saja, yaitu di  Rantau Tamiang, Lapangan Rantau Panjang, Peureulak dan Julok Rayeuk.

Komentar Facebook

Berita terkait

Redaksi menerima tulisan opini dan konten jurnalis wargaKirim
+