Publik Semakin Tidak Puas Dengan Penerapan Demokrasi di Indonesia

 Publik Semakin Tidak Puas Dengan Penerapan Demokrasi di Indonesia

JAKARTA – Lembaga survei Indikator Politik Indonesia menyebut bahwa tren kepercayaan masyarakat pada pelaksanaan demokrasi (democratic satisfaction) di Indonesia terus menurun. Dari hasil sigi terbaru mereka, yang puas pada pelaksanaan demokrasi saat ini hanya 47,6 persen dan yang tak puas 44,1 persen.


Dari hasil survei, mereka yang puas terdiri dari sangat puas 0,4 persen, dan cukup puas 47,1 persen. Sedangkan yang tak puas terdiri dari kurang puas 37,1 persen dan tidak puas sama sekali 7 persen. Adapun responden yang tidak menjawab/tidak tahu adalah 8,3 persen.

“Trennya bagaimana mereka yang tak puas how democracy is working in Indonesia itu naik tajam, dari 32 ke 44 persen,” kata Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi, dalam konferensi pers, Ahad, 26 September 2021.


Baca juga :  Saat Sidang Umum PBB, JK Kerap Ditanya Soal Keberadaan Jokowi

Burhanuddin mengatakan pada dasarnya iman masyarakat terhadap demokrasi sebagai sistem masih kuat. Namun, ia tetap mengingatkan Presiden Joko Widodo agar lebih memperhatikan hal ini.

Ia pun mengapresiasi langkah Jokowi yang belakangan mulai memperhatikan hal ini. Salah satunya dengan memanggil Suroto petani Jagung, yang sempat ditangkap kepolisian karena menyampaikan aspirasi terkait harga Jagung.

Burhanuddin melihat langkah Jokowi menegur Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo agar tak berlebihan menanggapi demo juga penting. “Ini penting disampaikan agar aspirasi publik bisa ditangkap oleh policy makers,” kata dia.

Baca juga :  Lambat Penyaluran BLT Dan BST, Jokowi Panggil 3 Menteri

Dari segi kepercayaan terhadap kinerja presiden, ada 58,1 persen yang menyatakan puas dengan kinerja Jokowi. Adapun yang tak puas mencapai 34 persen dan tak puas sama sekali 2,4 persen.

Meski tingkat kepercayaan terhadap kinerja Jokowi masih di atas 50 persen, namun Burhanuddin mengatakan tren penurunan kepercayaan ini belum lebih tinggi sebelum pandemi. “Sebelum pandemi itu sekitar 70-72 persen. Trennya masih turun,” kata dia.

Burhanuddin menduga hal ini berhubungan dengan program pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). Meski dianggap berhasil dari segi kesehatan, tapi PPKM dianggap membuat ekonomi terpukul. Meski dimensi ekonomi dan kesehatan tak bisa dipisahkan, Burhanuddin mengatakan masyarakat kelas menengah ke bawah cenderung melihat kinerja dari segi ekonomi saja.

Baca juga :  Program Kartu Prakerja Resmi Dibuka, Begini Cara Daftar

“Jika pemerintah masih menyelesaikan masalah secara parsial, ekonomi saja atau kesehatan saja, tentu kepuasan terhadap presiden itu belum bisa di-recovery,” kata Burhanuddin.

Survei Indikator Politik Indonesia soal demokrasi ini dilakukan pada 17 hingga 21 September 2021. Survei dilakukan terhadap 1.200 responden yang diwawancarai via telepon. Para responden yang dipilih merupakan mantan responden tatap muka yang sebelumnya pernah diwawancara oleh Indikator. Mereka dipilih secara acak.[Tempo]

Komentar Facebook

Berita terkait