“Harta Karun” Milik PT Arun yang Telah Diekspor ke Luar Negeri

 “Harta Karun” Milik PT Arun yang Telah Diekspor ke Luar Negeri

Kontrak bagi hasil antara PERTAMINA dengan Mobil Oil dari Amerika Serikat, yang ditandatanggani pada bulan Agustus 1968, menandai era baru pencarian sumber minyak baru di kawasan Aceh Utara.


Berdasarkan kontrak bagi hasil itulah Mobil Oil melakukan eksplorasi di wilayah Lhokseumawe yang telah pernah dieksplorasi pada masa kolonial Belanda. Eksplorasi pencarian minyak ternyata membuahkan penemuan sumber gas alam yang besar sebagaimana terjadi pada tanggal 24 Oktober 1971.

Ketika itu Tim eksplorasi menemukan semburan gas alam pada sumur yang mereka gali di Desa Arun, Kecamatan Syamtalira + 30 km di Tenggara kota Lhokseumawe. Deposit gas alam di kawasan itu yang terletak diatas hamparan sawah yang subur mencapai 17,1 triliun kaki kubik, sehingga layak untuk dieksploitasi dan dikembangkan untuk waktu puluhan tahun.


Pihak PERTAMINA bekerjasama dengan Mobil Oil dan JILCO yang dibentuk oleh Perusahaan pembeli gas dari Jepang kemudian membentuk perusahaan Patungan yang diberi nama PT ARUN NGL Co. Pendirian perusahaan ini menandai era baru Pengolahan gas alam di daerah Aceh mejadi komoditi ekspor yang diberi nama Liqufied Natural Gas (LNG).

Baca juga :  Kisah Waria Pekerja Seksual Di Aceh

Pada tanggal 3 Desember 1973 ditandatangani kontrak penjualan LNG dengan sejumlah Perusahaan-Perusahaan Industri Jepang di Tokyo, untuk tenggang waktu 20 tahun. Demikian pula berikutnya dengan Perusahaan Korea Selatan melalui perusahaan Electric Power Corp. (KEPCO) menandatangani kontrak LNG sebanyak 2 juta ton/tahun mulai 1981-2006.

Dalam rangkaian kontrak LNG tersebut di kawasan Blang Lancang Aceh Utara tahap pertama dibangun 3 train kilang pencairan gas/kilang LNG.

Pembangunan kilang LNG di Blang Lancang beserta jaringan pendukung (storage/pelabuhan) di percayakan pada perusahaan Bechtel Inc. Sejak tahun 1974 sampai tahun 1978. Pengapalan perdana condesat yang dihasilkan sumur gas Arun dengan negara tujuan Jepang dimulai pada tahun 1977, sementara Pangapalan LNG dimulai tahun 1978 dan pengapalan LPG dimulai tahun 1988. Dengan demikian Aceh telah menjadi pusat pemasok energy bagi beberapa negara dan sangat di andalkan serta lokasinya sangat strategis.

Hingga tahun 1977, PT ARUN NGL telah mengekspor 663,12 juta BBLS Kondesat, 1.904 juta ton LPG dan 378,27 juta m3 LNG. Dengan demikian Aceh menjelma menjadi pemasok devisa negara yang besar melalui prouk LNG, LPG dan kondesat, disamping minyak mentah.

Baca juga :  Ribuan Rumah di Kecamatan Dewantara Sudah Dialiri Jaringan Gas

Dalam masa puncak pengerjaan Kilang pertama yaitu antara tahun 1974-1977 tidak kurang, 5,000 tenaga kerja telah terserap dalam berbagai sektor.

Demikian pula personil PT. Arun NGL sendiri meningkat dari 872 orang pada tahun 1979 menjadi 2.086 orang pada tahun 1991 Limpahan gas alam tersebut telah memungkinkan pula berdirinya berbagai kegiatan industri antara lain pabrik pupuk PT. PIM (Pupuk Iskandar Muda) dan PT. AAF (Asean Aceh Fertilizer).

Bahan baku gas pabrik-pabrik itu diperoleh dari ladang gas Arun. Belum terhitung lagi tumbuhnya perusahaan swasta yang menjadi rekanan atau sub kontraktor untuk keperluan keperluan jaringan industri gas alam.

Di samping itu telah dilakukan pula berbagai-program pembangunan komunitas masyarakat dan pengabdian sosial kepada masyarakat luas dan masyarakat lokal di sekitar kegiatan eksplorasi, produksi dan pengolahan. Ranah pengabdian mereka demikian banyak dan luas, sehingga memerlukan uraian yang cukup panjang jika dipaparkan satu per satu secara detil. Namun sasarannya mengarah pada pembangunan/pengembangan komunitas masyarakat yang mencakup aspek sosial, pendidikan, peribadatan dan ekonomi masyarakat.

Baca juga :  Ketika Gadis Aceh Jadi Budak Seks di Malaysia

Mahasiswa-mahasiswa Teknik Unsyiah, USU dan ITB telah melaksanakan on job training sejak pembangunan infrastruktur kilang’ dimulai. Mahasiswa Pendidikan Diploma Kesekretariatan Unsyiah (PDPK) juga secara reguler melakukan job training di kilang tersebut.

Malah kehadiran lembaga pendidikan itu di Unsyiah pada tahun 1977 tidak dapat dipisahkan dengan operasional perminyakan. Berbagai bantuan untuk meningkatkan kualitas tenaga akademik dan prasarana akademik serta beasiswa telah diberikan oleh PERTAMINA kepada Perguruan Tinggi baik negeri atau swasta di Aceh.

Program bantuan “community development” yang telah disalurkan oleh jajaran PERTAMINA antara lain mencakup pembangunan infrastruktur ekonomi (jalan, pasar, pelabuhan dan lapangan terbang), sanitasi lingkungan, modal usaha, pembinaan industri kecil, pelatihan/ ketrampilan, sekolah umum, madrasah/pesantren, rumah ibadah, lapangan olah raga, tempat rekreasi, kegiatan kepemudaan dan keagamaan dan lain-lain.

Komentar Facebook

Berita terkait

Redaksi menerima tulisan opini dan konten jurnalis wargaKirim
+