Di Balik Maraknya Belanja Online dan Kerusakan Lingkungan

 Di Balik Maraknya Belanja Online dan Kerusakan Lingkungan

JAKARTA – Belanja online telah menjadi kebiasaan baru masyarakat. Apalagi di tengah pandemi Covid-19 yang membatasi aktivitas di luar rumah. Fenomena ini tak hanya di Indonesia, melainkan juga di berbagai negara. Banyak perusahaan perintis (start-up) lokapasar atau e-commerce kemudian bermunculan untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat.


Negara-negara di kawasan Asia-Pasifik adalah pasar terbesar industri ini, terutama di Tiongkok. Dengan 855 juta konsumen digital, negara panda tersebut memiliki pasar terbesar dan pertumbuhan tercepat di dunia. Penjualan ritel daring di negara itu menyumbang 3,2% terhadap produk domestik bruto (PDB).

Laporan Google, Temasek, dan Bain dalam laporan bertajuk e-Conomy SEA 2020 menyebutkan, sebagian besar pertumbuhan e-commerce di Asia Pasifik didorong oleh penetrasi internet dan tingkat kepemilikan telepon pintar yang tinggi. Itu juga yang menyebabkan adopsi e-commerce di Asia Tenggara semakin tinggi.


Baca juga :  Alex Noerdin Ditetapkan Sebagai Tersangka Korupsi Pembangunan Masjid Sriwijaya

Transaksi bruto alias gross merchandise value (GMV) lokapasar di Asia Tenggara melonjak 63% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi US$ 62 miliar tahun lalu. Angkanya diprediksi naik 23% menjadi US$ 172 miliar pada 2025.

Laporan itu juga mengungkapkan bahwa nilai ekonomi berbasis internet di Asia Tenggara mencapai US$ 105 miliar atau sekitar Rp 1.475 triliun pada tahun lalu. Sebanyak US$ 44 miliar atau Rp 619 triliun di antaranya disumbang oleh Indonesia.

Tren pengguna e-commerce di Indonesia pun tumbuh cukup besar dalam beberapa tahun terakhir. Pertumbuhan diprediksi masih akan terus terjadi dalam beberapa tahun ke depan.

Statista mencatat jumlah pengguna e-commerce di Indonesia pada 2017 mencapai 139 juta pengguna, kemudian naik 10,8% menjadi 154,1 juta pengguna di 2018.

Baca juga :  Tradisi Meukhikhis di Aceh Tenggara

Tahun ini diproyeksikan akan mencapai 193,2 juta pengguna dan 212,2 juta pada 2023. Pandemi Covid-19 yang menyebar di seluruh dunia, dan hampir semua negara memberlakukan pembatasan wilayah, mempercepat pertumbuhan pasar daring ini.

Di Asia Tenggara, dua layanan online yang paling banyak dicari adalah pengiriman makanan dan bahan makanan. Kemudian, perlahan-lahan jual beli fisik beralih ke daring. Selain makanan, pembelian kecantikan dan pakaian juga meningkat selama pandemi.

Dampak E-Commerce terhadap Lingkungan

Tidak dapat dipungkiri kehadiran e-commerce menumbuhkan ekonomi Indonesia dan terutama membantu pelaku usaha menengah kecil dan mikro (UMKM) bertahan di tengah pandemi Covid-19.

Sepintas, berbelanja di lokapasar memang terlihat lebih efisien dan ramah lingkungan karena pembeli tidak harus bepergian ke luar rumah. Secara teori hal itu benar. Namun, di sisi lain, belanja online juga menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan.

Baca juga :  TV Korsel Minta Maaf Terkait Remix Adzan Untuk Musik Pembukaan Acara Survival Dance

Pertama, sampah yang dihasilkan oleh sektor perdagangan daring menjadi masalah yang menggunung karena banyaknya kemasan yang digunakan untuk pengiriman. Banyak penjual di e-commerce menggunakan kemasan plastik sekali pakai, sementara para pembeli tidak punya pilihan kemasan yang lebih ramah lingkungan.

Merujuk hasil studi LIPI, aktivitas belanja online masyarakat berbentuk paket selama pandemi meningkat 62% di DKI Jakarta. Paket belanja tersebut 96% paket dibungkus dengan plastik yang tebal dan ditambah dengan bubble wrap. Selotip, bungkus plastik, dan plastik gelembung merupakan pembungkus berbahan plastik yang paling sering ditemukan.[katadata]

Komentar Facebook

Berita terkait