Menelusuri Jejak Akidi Tio

 Menelusuri Jejak Akidi Tio

Nama Akidi Tio saat ini sedang heboh seantero tanah air, keluarga mendiang Akido Tio itu menyumbangankan dana sebesar Rp 2 triliyun untuk penanganan Covid-19 di Sumatera Selatan.


Namun malah sebaliknya, sumbangan itu hingga sekarang belum bisa dicairkan, sehingga berkembang sejumlah opini, apakah memang keluarga mendiang Akidi Tio ini telah melakukan penipuan, atau memang masih terkendala proses administrasi?

Namun siapakan Akidi Tio itu dan bagaimana jejaknya di tanah air, maka berikut ulasannya.


Ketua Yayasan Hakka Aceh, Kho Khie Siong menyebutkan, Akidi Tio merupakan lahir dan besar di Kota Langsa, Provinsi Aceh. Ketika masih muda, dirinya tinggal di Jalan Iskandar Muda, Langsa.

pada tahun 1976, kemudian Akidi Tio bersama keluarganya pindah ke Palembang da nada juga yang ke Jakarta.

“Kini keluarga Akidi Tio sudah tidak tinggal lagi di Langsa,” ujar Kho Khie Sio sebagaimana dikutip dari situs detik.com, Rabu (28/7/2021).

Kho Khie Siong menambahkan, salah seorang anak Akidi Tio bernama Ahok, merupakan sebagai pemilik pabrik limun di Jalan Gang Nasional, Desa Blang Seunibong, Langsa dan kini pabrik limun tersebut telah tutup.

Baca juga :  Gadis 14 Tahun Di Aceh, Diperkosa Oleh Ayah Tirinya

Anak Akidi Tio yang bernama Ahok itu, meninggal dunia sekitar 5 tahun yang lalu, kemudian anak-anaknya merantau ke Pulau Jawa, Sumatera Utara, dan Palembang, sementara Akidi wafat pada tahun 2009.

Sebagaimana dikutip dari detikX, Plt Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Kota Langsa.Samsoe mengatakan, dirinya kenal dengan cucu Akidi yang bernama Sumardi atau Acien, ia merupakan anak Ahok, yang merupakan sebagai putra sulung Akidi.

Acien merupakan sebagai teman sekolah sekolah nya saat masih duduk di Sekolah Dasar (SD) 11 Kota Langsa, setelah lulus sekolah dasar itu, kemudian Acien bersama keluarganya merantau ke Jakarta dan Palembang.

Samsoe masih ingaat nama dari anak Akidi, beberapa di antaranya yaitu, Ahok, Pau Luk, Aguan, Pau Cen, dan Ahoeng, semua anak Akidi tersebut lahir di Kota Langsa.

“Namun saat ini tidak ada lagi satu orang pun anak ataupun cucu almarhum Akidi Tio yang menetap di Kota Langsa,” kata Samsoe, sebagaimana dikutip dari detikX, Jumat (6/8/2021).

Baca juga :  5 Perawat Puskesmas Di Aceh Reaktif C-19

Salah seorang tokoh Tionghoa di Kota Langsa, Ayong megatakan, dirinya memang tidak kenal persisi, namun kabarnya Akidi Tio sering bolak-balok ke Langsa, pada sekitar tahun 1950-an, bahkan beredar kabar kalau Akidi Tio sempat pindah ke Singapura dan kembali lagi ke Langsa pada tahun 1970-an.

Namun nama Akidi Tio sempat popular di Kota Langsa pada tahun 1970, kala itu dirinya ingin membangun mall pertama di kota Langsa, karena terkendala pembebasan lahan dari Pemerintah Aceh Timur, sehingga pembangunan itu tidak jadi.

Setelah rencana pembangunan mall itu gagal, kemudian nama Akidi tidak terdengar lagi dan aktivitasnya juga ikut tidak terdengar lagi.

Akademisi Universitas Samudera Langsa, Banta Cut mengatakan, tidak diketahuo berapa jumlah anak Akidi Tio dan begitu juga dengan aktivitas bisnisnya di Kota Langsa, ramai yang tidak mengetahuinya.

Saldo Tidak Ada

Bilyet Giro senilai Rp 2 triliyun milik keluarga Akidi Tio yang akan di donasikan untuk bantuan Covid-19 ternyata bodong. Maka Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) turun tangan mengusut hal tersebut.

Baca juga :  Kasus Ibu Bunuh Bayi yang Mengemparkan Aceh, Ada yang Dikubur Hidup-Hidup

Kepala PPATK Dian Ediana Rae menyebutkan bahwa, pihaknya akan melaporkan hasil pemeriksaannya itu Kapolri. Dengan adanya kasus itu, maka bisa berdampak terhadap reputasi yang mengeluarkan bilyet giro, bukan hanya itu saja, Bilyet Giro tersebut beredar luas.

Donasi yang saldonya tidak cukup tersebut memang perlu diusut lebih dalam, karena diperlukan pembenahan dalam perundang-undangan terkait penerimaan dan pengelolaan keuangan. Apalagi juga bisa menjadi pelajaran yang cukup mahal, dalam membenahi membenahi peraturan perundang-undangan terkait penghimpunan, penerimaan, pengelolaan, dan transparansi sumbangan-sumbangan.

PPATK mulai perhatiaan khusus ketika sejak awal heboh sumbangan Rp 2 triliyun itu, karena profil penyumbang dengan nilai nominal fantastis itu tak sesuai dengan jumlah yang akan disumbangkan.

Sehingga PPATK mulai menemukan titik terang dan

Sehingga berdasarkan hasil penelusuran PPATK pun menemui titik terang, duit Rp 2 triliun yang disebutkan dalam bilyet giro itu tidak ada.

Komentar Facebook

Berita terkait

Redaksi menerima tulisan opini dan konten jurnalis wargaKirim
+