Soekarno: Nabi Sendiri Sekalipun, tak Kan Sanggup Menyuruhku…

 Soekarno: Nabi Sendiri Sekalipun, tak Kan Sanggup Menyuruhku…

Hari yang Soekarno tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Setelah bangun tidur dan membersihkan diri, ia lekas berangkat ke rumah Haji Tjokroaminoto.


Hari itu Soekarno akan menikah untuk pertama kalinya, dengan Siti Oetari, anak Tjokroaminoto yang waktu itu masih 16 tahun.

Soekarno datang dengan perlente: pakai jas, dasi, rambut tersisir rapi.
Rupanya setelan Soekarno ini diprotes penghulu dan imam masjid. Soekarno dipaksa melepas dasinya jika mau ijab kabul tetap dilangsungkan.


“Penghulu secara serampangan menolak untuk menikahkan kami karena aku memakai dasi,” kata Soekarno dalam autobiografinya yang ditulis bersama Cindy Adams, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.
Perdebatan antara calon pengantin pria dengan penghulu pun tak terelakkan.

Baca juga :  Gatot Nurmantyo: TNI Kini seperti Era Orde Baru

Penghulu menegur, “Anak muda, dasi adalah pakaian orang yang beragama Kristen. Dan tidak sesuai dengan kebiasaan kita dalam agama Islam”.

“Tuan Kadi, saya menyadari, bahwa dulunya mempelai hanya memakai pakaian Bumiptera, yaitu sarung. Tapi ini adalah cara lama. Aturannya sekarang sudah diperbarui,” balas Soekarno.

Baca juga :  Membincang Moderasi Beragama

“Ya, akan tetapi pembaruan itu hanya untuk memakai pantolan dan jas terbuka”.
“Adalah kegemaran saya untuk berpakaian rapi dan memakai dasi”.

Soekarno muda yang mulai berapi-api lantas sesumbar: “Dalam hal ini biarpun Nabi sekalipun, tak kan sanggup menyuruhku untuk menanggalkan dasi”.

Mendengar lagak Soekarno itu, imam masjid menghardiknya. Tetapi Soekarno tak memedulikannya.
“Persetan, tuan-tuan semua. Saya pemberontak dan saya akan selalu memberontak, saya tidak mau didikte orang di hari perkawinan saya,” pekik Soekarno.

Baca juga :  Penembak Jitu LHC Penuhi Undangan BSC

Setelah saling adu lidah dengan urat leher yang menegang, pernikahan Soekarno dengan Oetari akhirnya tetap dilanjutkan. Ijab kabul selesai dan ia resmi menjadi menantu Tjokroaminoto.

Namun di malam pertama Soekarno tak mau menyentuh Oetari karena dianggap masih terlalu belia. Baginya, meniduri Oetari berarti menjadi “seorang pembunuh anak gadis remaja”.

 

Penulis Bisma Yadhi Putra

Merupakan sebagai Esais dan peneliti

Komentar Facebook

Berita terkait

Redaksi menerima tulisan opini dan konten jurnalis wargaKirim
+