Laki-laki yang Mengatai Ulama Aceh Pencuri dan Pembunuh

 Laki-laki yang Mengatai Ulama Aceh Pencuri dan Pembunuh

Penentangan kelompok uleebalang terhadap para pemimpin Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA) rupanya terus berlanjut setelah Peristiwa Cumbok. Sebagian uleebalang yang selamat dari pertempuran kemudian mengamankan diri ke luar Aceh, misalnya menuju Medan atau Jakarta. Dari sana perlawanan dilanjutkan dengan cara baru, yakni lewat tulisan-tulisan di surat kabar.

Baca juga :  Puskesmas Di Lhokseumawe Harus Mampu Deteksi Dini Virus Corona

Menulis ejekan, kekurangan, atau makian terhadap ulama-ulama Aceh di tempat yang jauh dari jangkauan pengikut mereka pasti bisa dilakukan dengan leluasa dan perasaan aman. Tulisan-tulisan bisa terus dihasilkan tanpa perlu khawatir tiba-tiba ditebas dari belakang.

Baca juga :  Aceh Sudah Mulai Produksi Minyak Bumi Sejak Tahun 1901

Ada satu kisah mengenai ini yang terjadi tahun 1950.

Teuku Teungoh Hanafiah (dalam beberapa publikasi namanya disingkat T. T. Hanafiah) boleh jadi merupakan sosok uleebalang yang paling banyak dimaki waktu itu. Di Indonesia Raya, sebuah koran yang terbit di Jakarta, Hanafiah menulis sejumlah artikel yang bikin panas hati Pengurus Besar PUSA dan Pemuda PUSA (orang-orang PUSA).

Baca juga :  Jejak Sunda Empire Aceh

Baca Selengkapnya

Komentar Facebook

Berita terkait

Redaksi menerima tulisan opini dan konten jurnalis wargaKirim
+