Disini Harga PSK Hanya Rp 7 Ribu Per Jam

 Disini Harga PSK Hanya Rp 7 Ribu Per Jam

Samudrapost.com – Bisnis porstitusi nampaknya semakin tumbuh subur. Meski di sejumlah kota besar, Pemerintah telah berupaya membatasi ‘perdagangan’ tak lazim ini, kenyataannya lokasi usaha pelacuran malah kian marak.

Kalau dulu, lokasi ‘esek-esek’ hanya terpusat di tempat hiburan malam, sekarang ‘layanan jasa’ ini tersedia di berbagai tempat. Misal, panti pijat, kos-kosan, hingga apartemen. Belakangan ini, bisa juga lewat online.

Ternyata, bukan hanya di Indonesia. Dunia ‘perdagangan ilegal’ ini turut berkembang di berbagai belahan dunia. Meski peminat bisnis ‘lendir’ tak pernah sepi, bukan berarti keuntungannya selalu menggiurkan.

Baca juga :  Bupati Aceh Timur Salat dan Makan Malam Bersama Pengungsi Banjir

Pekerja seks komersil (PKS) di sejumlah negara ini rela dibayar murah oleh pelanggan. Dibandingkan dengan Indonesia, jelas jauh berbeda. Seperti dilansir netralnews.com, berikut negara yang menjual PSK dengan tarif termurah.

Bangladesh (USD 0,6 atau Rp 7.935 per jam)

Negara ini menjual ‘wanita’ dengan tarif paling murah sedunia. Ironisnya, dari harga tersebut, PSK hanya mendapat upah upah USD 0,18 atau Rp 2.300-an per jam. Lebih murah dari sebotol minuman air mineral di sini.

Baca juga :  Film The Expendables dan Kisah Tentara Bayaran. Malam Ini Tayang Di Trans TV

India (USD 1 atau Rp 13.225 per jam)

Tingginya ketimpangan sosial di negara tersebut memang dianggap memprihatinkan. PSK kelas bawah asal Bollywood paling mahal hanya Rp 13 ribuan. Pun belum terhitung potongan untuk mucikarinya.

Mali (USD 2 atau Rp 26.450 per jam)

Negara di bagian Afrika ini tengah mengalami krisis. Makanya, berbagai cara dihalalkan demi hidup. Demi bayaran USD 2 atau Rp 26 ribuan per jam, banyak wanita di sana bersedia melayani hasrat para pria.

Baca juga :  Ketika Gadis Aceh Jadi Budak Seks di Malaysia

Suriah (US$7 atau Rp 92.575 per jam)

Wanita asal Timur Tengah memang terkenal dengan keelokannya. Siapa yang menyangka, tarif seorang perempuan yang menjual dirinya sebegitu murah. Konflik panjang di negara tersebut menjadi alasan mereka terjun ke bisnis portitusi sampai banting harga.[harianmemokepri]

Komentar Facebook

Berita terkait

Redaksi menerima tulisan opini dan konten jurnalis wargaKirim
+