Setelah Peneliti Berdusta di Aceh

 Setelah Peneliti Berdusta di Aceh

Bisma Yadhi Putra

Daerah bekas perang bukan tempat yang paling menyusahkan bagi penelitian baru. Ketika daerah bekas perang kemudian beralih menjadi daerah bekas penelitian, para peneliti yang baru masuk ke situ akan menghadapi kerumitan yang lebih tinggi.


Di daerah yang baru selesai perang, situasi mendasar yang paling menguntungkan adalah bahwa tak ada lagi kekacauan yang pasti mengancam peneliti.

Kemudian, ada kecenderungan para penduduk di daerah bekas perang ingin bercerita banyak pada orang-orang yang baru mereka jumpai, terlebih peneliti asing, mengenai penderitaan komunitas, pertempuran-pertempuran seru, heroisme, atau pengalaman pribadi dalam kekerasan.


Ramainya orang yang sudi menceritakan kisah diri maupun saudara senasib segeramembuat para peneliti kebanjiran data atau temuan—yang beberapa di antaranya malah membuka kesempatan untuk penyelenggaraan studi lain.

Namun di balik kisah sukses itu, ada luka yang ditinggalkan sebagian peneliti. Mereka justru membuat daerah bekas perang menjadi daerah yang antipati terhadap penelitian.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Di Aceh, kesalahan itu sebenarnya bukan dimulai oleh peneliti.

Setelah perang, terjadi eksploitasi atas harapan korban perang. Yang melakukan itu adalah mantan pemberontak, birokrat (tingkat desa hingga provinsi), bahkan ada yang dari kalangan korban sendiri (artinya korban perang di Aceh ada yang menzalimi korban perang lainnya).

Baca juga :  Membincang Moderasi Beragama

Korban-korban perang punya harapan memperoleh kompensasi, baik dalam bentuk uang maupun benda. Mereka menyerahkan data diri serta anggota keluarga lainnya, baik yang sudah mati maupun masih hidup, kepada siapa saja yang mengaku bisa mewujudkan harapan itu.

Dari sinilah mereka mulai kecewa karena harapannya ternyata dipermainkan. Setelah sekian lama menunggu, setelah sekian lama berharap, tak ada bantuan apa pun yang datang. Sementara data diri terlanjur diberi.

Setelah kepiluan pertama itu, episode nestapa lainnya berlanjut. Kali ini, pendustanya adalah para peneliti amoral, baik yang datang dari perguruan tinggi, lembaga negara, maupun LSM/NGO. Mereka datang ke daerah bekas perang dengan tujuan memperoleh data melalui wawancara dengan korban-korban perang.

Untuk memuluskan kerjanya, para peneliti itu mengatakan kepada korban-korban yang dijumpainya bahwa aktivitas mereka merupakan suatu proses dari program pemberian bantuan kepada korban perang.

Dan ketika korban menanyakan kapan bantuan akan datang, peneliti-peneliti pendusta itu berdalih bahwa mereka cuma petugas lapangan, sedangkan yang menindaklanjuti data untuk pencairan bantuan adalah “orang-orang di kantor”.

Baca juga :  Ketempuhan di Kampus BLU

Padahal, orang-orang di kantor mereka, misalnya perguruan tinggi, tidak pernah membuat program pemberian bantuan atau ganti rugi.
Waktulah yang akhirnya kembali menyadarkan korban-korban perang itu bahwa mereka telah dibohongi lagi.

Mereka menunggu tetapi bantuan tidak pernah datang.Setelah peneliti-peneliti itu berhasil memperoleh data, berhasil merekam kesaksian yang disampaikan, mereka pulang meninggalkan korban-korban yang telah diwawancarainya dengan janji yang dibuat agar apa-apa yang ingin diperolehnya bisa diraih.

Ketika peneliti baru datang ke daerah bekas penelitian itu, mereka akan menghadapi korban-korban perang yang mengeluh data mereka terus-menerus diambil namun bantuan yang dijanjikan tak pernah diterima. Pada beberapa korban, keluhan ini disampaikan untuk menolak diwawancarai lagi.

Korban mengeluh telah ditipu. Peneliti baru mengeluh karena peneliti sebelumnya menipu. Dusta demikian bukan saja bermasalah dari sisi moral karena telah melukai perasaan orang-orang yang telah terlukai badan dan jiwanya karena perang, tetapi juga telah merusak ruang studi baru guna penelaahan lanjutan yang hendak dilakukan para peneliti muda.

Baca juga :  5 Perawat Puskesmas Di Aceh Reaktif C-19

Orang-orang muda yang ingin menelaah bagaimana keadaan hidup para korban di suatu daerah setelah 15 tahun perang usai akan menghadapi fenomena antipati atas penelitian karena ulah peneliti pendusta yang masuk ke situ di masa silam.

Kalau sudah begini, yang bisa dilakukan peneliti baru/muda adalah bersikap jujur saja bahwa mereka tak sama dengan para peneliti terdahulu; bahwa mereka tidak akan memberikan bantuan apa pun kepada para korban yang diwawancarai.

Hal inilah yang saya lakukan ketika menghadapi keluhan korban-korban perang di Gampong Ceumeucet, Aceh Utara, waktu masih bekerja untuk KKR Aceh pada 2018 lalu. Saya bilang bahwa mereka tidak akan mendapatkan bantuan apa-apa setelah kami wawancarai, baik dalam bentuk uang maupun benda. Dengan jujur begitu ternyata mereka mau membuka diri.

Berkata apa adanya pada korban-korban perang juga berguna untuk membuat mereka paham bahwa tak semua peneliti yang datang bisa dipercaya. Sebagian peneliti adalah pendusta.

Penulis: Bisma Yadhi Putra

Esais dan peneliti

Komentar Facebook

Berita terkait