AR Ramly, Putra Aceh yang Membuat Laba Pertamina Hingga Rp 3. 629, 79 Miliar

 AR Ramly, Putra Aceh yang Membuat Laba Pertamina Hingga Rp 3. 629, 79 Miliar

Abdul Rachman Ramly | Foto: Arsip Samudrapost.com

Abdul Rachman Ramly atau yang disapa akrab AR Ramly, telah dipercayakan untuk memimpin PT Pertamina dan memangku jabatan sebagai Direktur Utama sejak tanggal 16 Juni 1984. Putra kelahiran Langsa, 7 April 1927 itu, merupakan sebagai mantan jenderal yang dilatih di Fort Benning.


Sebagaimana dikutip dari buku yang ditulis oleh Jamaluddin Ahmad,  berjudul “Pertamina Peduli Pembangunan Daerah Istimewa Aceh”, menyebutkan, sebelum memimpin PT Pertamina, dirinya telah berhasil memimpin PT Tambang Timah, yang dipercaya menjabat sebagai Direktur Utama perusahaan milik BUMN tersebut dan membawa perusahaan ini dari kemelut yang dihadapi, serta berhasil mencapi kinerja baik, meskipun pasaran timah dunia kurang menggembirakan.

Berbagai langkah telah ditempuh selama lebih empat tahun mengendalikan PT Pertamina, dalam upaya meningkatkan kinerja perusahaan yang menjadi sokoguru pembangunan di Indonesia. Di bawah kepemimpinannya Pertamina dapat mengangkat kesejahteraan karyawan.


Baca juga :  Cek Disini yang Lolos Prakerja Gelombang 21

Bidang perminyakan bukanlah baru bagi Abdul Rachman Ramly, karena sebelumnya pernah memasuki Sekyuko Jusaisho, sebuah kursus dasar perminyakan yang dibuka Jepang di Pangkalan Susu, Sumatera Utara, merupakan sebagai daerah penghasil minyak yang berbatasan dengan Aceh.

Usai menjalani kursus itu, ia diangkat menjadi mandor pengeboran minyak (boormeester) di daerah tersebut.

Selama menjabat sebagai Direktur Utara Pertamina, dirinya telah berupaya pada peningkatan kinerja perusahaan itu. Bahkan ketika menerima penghargaan Kartika Putra Utama, atas jasanya dibidang perminyakan, suatu prestasi yang dijadikan dasar pertimbangan adalah keberhasilannya didalam meningkatkan kinerja Pertamina dan meningkatkan kesejahteraan karyawan.

Direktur Utama Pertamina yang berasal dari lingkungan keluarga santri di Langsa ini, memang sedikit bicara dan terkesan pendiam namun banyak bekerja. Ia amat dekat dan lekat di hati karyawan Pertamina, karena kehadirannya banyak meningkatkan kesejahteraan.

Baca juga :  Pasien Positif Corona Di Aceh Minta Maaf

Hal tersebut dapat dibuktikan ketika harus berpisah dengannya di tahun 1988. Suatu upacara besar, perpisahan dengan Abdul Rachman Ramly digelar sesudah Salat Jumat penuh dengan emosi dan keharuan.

Seluruh pekerja tanpa diminta memenuhi lapangan parkir di kantor pusat PT Pertamina, Jakarta. Ia dinaikkan ke atas truk terbuka, didorong oleh seluruh pekerja hingga keluar lapangan dan dibacakan doa untuk kesehatannya.

Pada akhir masa jabatannya, 19 Agustus 1988 dan dipercaya memangku jabatan sebagai Duta Besar Indonesia di Amerika Serikat, kita bisa membaca sederet prestasi yang telah berhasil dicapainya.

Kinerja Pertamina tambah baik, dimasa kepemimpinannya Standar Akuntasi Industri perminyakan Indonesia mulai dirumuskan, bekerjasama dengan Ikatan Akuntan Indonesia. Untuk pertama kalinya Pertamina meraih prestasi Unqualified Opinion atau wajar tanpa syarat atas administrasi keuangan.

Baca juga :  Kegigihan PT Perta Arun Gas Santuni Anak Yatim Ditengah Badai Corona

Pada tahun anggaran 1983/1984 Pertamina memperoleh laba kotor Rp 3. 629, 79 miliar. Upaya membenahi administrasi keuangan dan meningkatkan efisiensi dan efektifitas produksi terus dilakukan, serta telah dinyatakan berhasil.

Usaha terobosa terutama di bidang pemasaran luar negeri, dengan pendekatan kepada para buyers secara lebih luwes, telah membuahkan hasil, dimana Korea Selatan dan Taiwan bersedia membeli LNG dari Indonesia.

Jepang pada masa itu bersedia membeli tambahan LPG lebih banyak dari Arun dan Bontang. Kehadiran Abdul Rachman Ramly, membawa Pertamina ke manajemen yang low profile dengan penekanan pada pola kerjasama yang saling membutuhkan.

Komentar Facebook

Berita terkait