Aceh Sudah Mulai Produksi Minyak Bumi Sejak Tahun 1901

 Aceh Sudah Mulai Produksi Minyak Bumi Sejak Tahun 1901

Sejumlah pekerja pertambangan minyak, sedang memperbaiki pipa bocor di Lapangan Julok Rayeuk, Aceh Timur, tahun 1960 | Foto: Arsip Samudrapost.com

Minyak bumi kini sudah menjadi sebagai kebutuhan pokok, yang digunakan untuk berbagai hal, mulai dari industri kecil, hingga industri besar, juga dipergunakan untuk berbagai hal lainnya.


Sumber daya alam yang terkandung di perut bumi ini, bisa diibaratkan seperti “Bidadari Cantik”, yang siapa saja ingin memiliki dan mengelolanya, sehingga banyak diperebutkan oleh orang lain.

Sebagaimana yang dikutip dari buku yang ditulis oleh Jamaluddin Ahmad, berjudul “Pertamina Peduli Pembangunan Daerah Istimewa Aceh”, ternyata Kesultanan Aceh sudah mengenal minyak bumi pada abad ke 16 dan 17, bahkan kala itu digunakan sebagai obor untuk penerangan. Bukan hanya itu saja, bahkan juga digunakan untuk membakar kapal Portugis, ketika terjadi perperangan di Selat Malaka.


Saat itu, minyak bumi tersebut juga dijadikan sebagai obat gosok dan diperdagangkan ke luar negeri, karena minyak itu naik ke permukaan tanah dan bahkan juga sampai mengenangi rawa-rawa.

Industri minyak bumi dimulai pada 15 Juni 1885, kala itu A.J. Zijker, berhasil menggali sebuah sumur minyak dan sumur itu kemudian diberinama sebagai Telaga Tunggal 1 atau lebih dikenal dengan sebutan Telaga Said. Letaknya berada di Pangkalan Brandan, Sumatera Utara.

Baca juga :  Ajudan Wagubsu Positif Corona Dan Tidak Melapor Saat Pulang ke Aceh

Telaga Said itu dikelola oleh NV Koninklijke Nederlandsch Petroleum Mij, kemudian berpatungan dengan perusahaan Shell dan melahirkan perusahaan minyak baru yang diberinama Bataafsche Petroleum Mij (BPM).

Kemudian dibangunlah kilang penyulingan minyak yang berkapasitas 2,4 ribu barrel per hari di Pangkalan Brandan, Sumatera Utara, pada tahun 1892. Selama sembilan tahun berjalan, perusahaan Holland Perlak Mij, NV. Petroleum Mij Zaid Perlak, melakukan eksplorasi di Rantau Panjang, Landeshap Perlak, Aceh Timur.

Eksplorasi itu ternyata tidak sia-sia, minyak yang ditemui sejak tahun 1900 itu, kemudian dialirkan dengan pipa sepanjang 130 kilometer ke kilang BPM di Pangkalan Brandan dan disuling. Setelah disuling, kemudian dialrikan ke Pelabuhan Pangkalan Susu, Sumatera Utara, untuk di kirim ke luar negeri.

Maka Aceh sudah berproduksi minyak bumi secara komersial, pada bulan Agustus 1901. Kala itu minyak yang berada di Rantau Panjang, Pereulak, Aceh Timur, mencapai 240.250 liter dan pada tahun 1909 meningkat menjadi 68.807 ton.

Baca juga :  Mulai 2020, SPBU Pertamina Terapkan Pembayaran Nontunai

Produksi minyak berlimpah, maka perusahaan lainnya juga ingin memburu ladang minyak tersebut. Kala itu, ladang minyak bukan hanya berada di Landsehap Perlak saja, tapi sudah berada dibeberapa titik, seperti Idi, Langsa dan Tamiang.

Memasuki tahun 1932 hingga 1934, eksplorasi minyak di wilayah Langsa dan Idi, berada di area 50.000 hektare, Landeshap Serbajadi, Idi Rayeuk, Peudawa Rayeuk, Sungo Raya. Sementara di Tamiang, pertama sekali dilakukan ekplorasi berada di Rantau, Landeshap Keujureun Muda, yaitu di tahun 1929.

Dengan meluasnya eksplorasi tersebut, maka nilai produksi sudah semakin meningkat. Jumlah produksi di kilang Pangkalan Brandan, Sumatera Utara, yaitu satu juta ton per tahun, saat menjelang Perang Dunia ke II. Begitu juga dengan ekspor minyak Aceh di tahun 1938, telah mencapai 705.650 m3.

Ketika memasuki Pemerintah Militer Jepang membangung kilang penyulingan minyak untuk kapasitas 40 ton per hari, di Desa Paya Bujok, Kota Langsa, tahun 1943. Maka pertama sekalinya untuk daerah Aceh, dioperasikan kilang penyulingan yang digunakan untuk keperluan Militer Jepang.

Baca juga :  Mulyadi, Wartawan Aceh Utara Peroleh Terbaik I Lomba AJP 2020 Sumbagut

Ketika Jepang kalah perang, maka sumur minyak yang berada di Aceh Timur mulai terbengkalai. Maka pekerja minyak di Aceh Timur, membentuk wadah yang diberinama Tambang Minyak Republik Indonesia (TMRI), berpusat di Langsa pada 1 Januari 1946.

Kemudian mulai memproduksi bensin dan minyak tanah di perusahaan tersebut, minyak hasil produksi itu, digunakan untuk kebutuhan di daerah Aceh dan sekitar. Namun untuk kilang minyak di Pangkalan Susu, Jepang menyerahkan atas nama sekutu kepada Residen A. Karim MS, mewakili Gubernur Sumatera pada bulan Juli 1946.

Kilang minyak yang berada di Pangkalan Brandan, Sumatera Utara, dibakar pada tahun 1947, setelah dua minggu Belanda melakukan Agresi Militer I. Maka banyak pekerja di kilang itu merantau ke Kota Langsa.

Kala itu, produksi minyak yang efektif hanya berada di Aceh Timur, Julok Rayeuk, Peureulak, Lapangan Rantau Panjang dan Rantau Tamiang.

Penulis: Muhammad

Komentar Facebook

Berita terkait