Kisah PSK Aceh, Bisa Dibarter Dengan Sabu

 Kisah PSK Aceh, Bisa Dibarter Dengan Sabu

Ilustrasi

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB, disalah satu sudur cafe di Kota Lhokseumawe, terlihat seorang gadis yang sedang duduk sambil memaikan gawainya. Bahkan sesekali dia meleparkan senyuman bagi setiap orang yang lewat di depannya.

Sebut saja namanya Rindu (bukan nama sebenarnya). Penampilannya tidak berbeda dengan gadis pada Aceh pada umumnya, malam itu ia menggunakan baju kaos yang casual dan menggunakan celana jeans yang sedikit ketat, serta memakai jilbab.

Rindu bercerita, dirinya sudah lumayan lama mengelut profesi sebagai wanita panggilan bagi para lelaki berhidung belang. Untuk menaklukkannya bukan hanya pakai rupiah, tapi bisa juga menggunakan sepaket narkoba jenis sabu-sabu.

Transaksi barteran layanan seksual dengan sabu-sabu tersebut, juga bisa melalui pengedar langganannya. Jika ada pelanggan yang meminta dilayani dengan barteran sabu, maka si pengedar bernegosiasi terlebih dahulu.

“Biasanya kalau ingin barter dengan sabu, maka harus negosiasi dulu dengan pengedarnya. Apabila sudah cocok barus mulai ke tahap selanjutnya, kalau mau bawa barang sendiri ngak masalah juga,” ujar Rindu.

Baca juga :  Mengapa Pantai Timur Amerika Serikat Menjadi Sarang COVID-19?

Menurutnya, bercinta dibawah pengaruh narkoba yang berbentuk butiran kristal itu, memiliki kenikmatan tersendiri, karena bisa mencapai klimaks dalam rentang waktu yang lama. Akan tetapi disaat dirinya sedang tidak punya uang, maka ia tetap meminta kepada setiap pria yang menggunakan jasanya itu.

Pelanggan-pelanggannya lebih banyak yang berkantong tebal, memang sudah paham benar dan tahu dimana tempat yang aman untuk bercinta dibawah pengaruh sabu. Menghisap dan menelan asap dari bong yang telah dibuat sedemikian rupa, menjadi ritual awal sebelum melakukan hubungan terlarang itu.

Dirinya terjun ke dalam dunia hitam tersebut, diakibatkan karena himpitan ekonomi sehingga dirinya ingin berpenampilan glamor, serta bergaya hidup hedonisme dalam kehidupannya sehari-hari. Sehingga terpaksa untuk memilih profesi ke dalam dunia hitam.

Fenomena bisnis prostitusi di Kota Lhokseumawe mulai mewarnai dan sangat rapi. Semoga kedepan masalah tersebut bisa terselesaikan dengan baik, bagi sudah terjerus bisa melakukan perubahan dalam hidupnya.

Misteri Barter Sabu dan Hamil

Baca juga :  Perempuan Aceh Tersudut Pelecehan Seksual

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB, disalah satu sudur cafe di Kota Lhokseumawe, terlihat seorang gadis yang sedang duduk sambil memaikan gawainya. Bahkan sesekali dia meleparkan senyuman bagi setiap orang yang lewat di depannya.

Sebut saja namanya Rindu (bukan nama sebenarnya). Penampilannya tidak berbeda dengan gadis pada Aceh pada umumnya, malam itu ia menggunakan baju kaos yang casual dan menggunakan celana jeans yang sedikit ketat, serta memakai jilbab.

Rindu bercerita, dirinya sudah lumayan lama mengelut profesi sebagai wanita panggilan bagi para lelaki berhidung belang. Untuk menaklukkannya bukan hanya pakai rupiah, tapi bisa juga menggunakan sepaket narkoba jenis sabu-sabu.

Transaksi barteran layanan seksual dengan sabu-sabu tersebut, juga bisa melalui pengedar langganannya. Jika ada pelanggan yang meminta dilayani dengan barteran sabu, maka si pengedar bernegosiasi terlebih dahulu.

“Biasanya kalau ingin barter dengan sabu, maka harus negosiasi dulu dengan pengedarnya. Apabila sudah cocok barus mulai ke tahap selanjutnya, kalau mau bawa barang sendiri ngak masalah juga,” ujar Rindu.

Baca juga :  Bupati Di Aceh Diancam Bunuh Oleh Wakilnya

Menurutnya, bercinta dibawah pengaruh narkoba yang berbentuk butiran kristal itu, memiliki kenikmatan tersendiri, karena bisa mencapai klimaks dalam rentang waktu yang lama. Akan tetapi disaat dirinya sedang tidak punya uang, maka ia tetap meminta kepada setiap pria yang menggunakan jasanya itu.

Pelanggan-pelanggannya lebih banyak yang berkantong tebal, memang sudah paham benar dan tahu dimana tempat yang aman untuk bercinta dibawah pengaruh sabu. Menghisap dan menelan asap dari bong yang telah dibuat sedemikian rupa, menjadi ritual awal sebelum melakukan hubungan terlarang itu.

Dirinya terjun ke dalam dunia hitam tersebut, diakibatkan karena himpitan ekonomi sehingga dirinya ingin berpenampilan glamor, serta bergaya hidup hedonisme dalam kehidupannya sehari-hari. Sehingga terpaksa untuk memilih profesi ke dalam dunia hitam.

Fenomena bisnis prostitusi di Kota Lhokseumawe mulai mewarnai dan sangat rapi. Semoga kedepan masalah tersebut bisa terselesaikan dengan baik, bagi sudah terjerus bisa melakukan perubahan dalam hidupnya.[Tagar.id]

Berita terkait