Ketika Gadis Aceh Jadi Budak Seks di Malaysia

 Ketika Gadis Aceh Jadi Budak Seks di Malaysia

Samudrapost | Suaranya terdengar cukup nyaring, kami berbicara dengan menggunakan aplikasi WhatsApp lebih dari satu jam. Maklum saja karena memang kami sedang berada di dua negara yang berbeda. Namanya Bukhari, menjabat sebagai Ketua Perkumpulan Masyarakat Aceh di Malaysia, sudah beberapa tahun menetap di Negara Jiran itu. Tentunya segala persoalan yang dialami masyarakat Aceh di sana, juga ikut menjadi tanggung jawabnya.

Dirinya bercerita, saat ini sangat banyak gadis asal Aceh yang berhasil di jual ke Malaysia, tentunya dengan menggunakan berbagai modus dan bujuk rayuan agar bisa dibawa ke Negeri Jiran tersebut.

Biasanya para agen-agen ilegal yang sudah lama menetap di Malaysia, pulang ke Aceh untuk mencari “mangsa”, berupa gadis-gadis yang masih sangat polos dan sangat membutuhkan pekerjaan.

Beberapa modus yang sering dilakukan yaitu berjanji akan memberikan gaji yang banyak dan berbagai fasiltas yang bagus. Intinya apabila korban ikut maka akan mendapatkan kehidupan yang enak.

Bukan hanya sebatas itu, sebagian para agen mengeluarkan uang pribadinya untuk mengurus paspor, serta sejumlah dokumen keimigrasian korban dan menyerahkan uang tunai kepada ibu korban sebelum berangkat, agar keluarga korban bisa lebih yakin.

“Jadi banyak yang seperti itu, awalnya mereka mengeluarkan uang sendiri dulu agar keluarga si korban menjadi yakin, nantinya setiba di Malaysia mereka mendapatkan uang lagi dari orang yang telah menunggu disana,” ujar Bukhari belum lama ini kepada Tagar.

Orang yang ditugaskan untuk mencari korban memang terlihat permainannya sangat rapi dan tergabung dalam agen-agen ilegal atau tidak resmi, secara umum mereka merupakan warga Aceh dan Sumatera Utara yang telah lama menetap di Malaysia.

Korban yang disasar oleh mereka merupakan gadis-gadis Aceh yang berparas cantik dan memiliki lekuk tubuh yang menarik, serta wajib yang masih berusia belasan tahun, agar lebih banyak yang menarik.

“Jadi orang yang ditugaskan untuk mencari korban, memang perbuatannya itu terlihat rapi sekali. Mereka ini berasal dari Sumatera Utara dan Aceh, tapi sudah lama tinggal di Malaysia, mereka itu tergabung dalam agen tidak resmi,” tutur Bukhari.

Berdasarkan hasil pendataan yang dilakukan, maka paling banyak gadis Aceh yang dijual ke Malaysia, berasal dari Kota Banda Aceh, Kota Lhokseumawe dan Kabupaten Bireuen, serta ada beberapa di daerah lainnya.

Baca juga :  Warga Aceh Temukan Bayi Perempuan Di Teras Rumah

Rata-rata gadis Aceh itu dibawa dengan menggunakan kapal laut melalui Pelabuhan Tanjung Balai Asahan, Sumatera Utara, namun ada juga dengan menggunakan pesawat melalui Bandara Kualanamu, Sumatera Utara dan langsung ke Malaysia.

Kemudian lanjut Bukhari jalur lain yang sering digunakan, yaitu melalui Bandara Kualanamu, Sumatera Utara, transit di Batam, Kepulauan Riau dan kemudian melanjutkan perjalanan melalui jalur laut ke Johor Bahru, Malaysia.

Setiba di Malaysia maka gadis-gadis Aceh tersebut sudah ada yang menjemput dan kemudian pergerakannya sangat dibatasi, bahkan tidak dibenarkan untuk menggunakan telepon seluler dan tidak boleh untuk pergi kemana-mana.

“Saat tiba di Malaysia maka mereka langsung putus kontak dengan orang tuanya di kampung halaman, karena semuanya telah dibatasi. Untuk pegang telepon seluler saja tidak boleh,” tutur Bukhari.

Biasanya para gadis-gadis Aceh yang dijual untuk kepentingan bisnis syahwat, di tempat diskotik dan tempat-tempat prostitusi yang berkedok sebagai tempat pijat tradisional, tapi di dalamnya mereka disuruh melayani para pria hidung belang.

Bukhari telah berulangkali melaporkan agen-agen ilegal kepada pihak penegak hukum di Aceh, namun belum ada satu pun yang diproses, padahal Bukhari telah menyerahkan sejumlah bukti.

“Saya malah sudah menyerahkan foto-foto pelakunya kepada pihak penegak hukum, namun belum ada satu pun kasus yang diproses, seharusnya kasus-kasus seperti ini harus dengan cepat diproses agar tidak ada korban yang lain,” ujarnya.

Terjangkit AIDS
Yayasan Permata Aceh Peduli (YPAP), pernah menemukan sejumlah kasus gadis belia yang pulang dari Malaysia, terjangkit virus Acquired Immuno Deficiency Syndrome atau disebut AIDS.

Direktur Yayasan Permatan Aceh Peduli Khaidir, mengatakan pada bulan Januari 2020 pihaknya juga menemukan satu kasus, di mana salah seorang gadis Aceh yang menjadi Sales Promotion Girls (SPG) di Malaysia terjangkit AIDS.

“Pada tahun 2019 kami ada menemukan tiga kasus gadis Aceh yang pulang dari Malaysia terjangkit AIDS, pada awal Januari 2020 baru satu kasus yang kami temukan. Gadis itu bekerja di Malaysia sebagai SPG dan kini telah terjangkit AIDS,” ujar Khaidir.

Khaidir menambahkan, para gadis tersebut saat sekarang ini telah menjalani perawatan medis di rumah sakit dan terus didampingi oleh lembaga yang fokus bekerja pada isu HIV dan AIDS tersebut.

Baca juga :  Pasangan Suami Istri Di Aceh Kompak Lakukan Pembunuhan Sadis

Kasus-kasus penjualan manusia tersebut memang sangat terorganisir dan sangat sulit untuk dilacak, sehingga bukti-bukti otentiknya tidak bisa ditemukan dengan mudah serta butuh penelusuran lebih lanjut.

“Terkait dengan kasus ini maka tidak bisa kita vonis secara sembarangan, namun kami selalu ada menemukan gadis-gadis belia Aceh yang terjangkit AIDS. Jadi mereka itu sudah memasuki fase AIDS bukan lagi HIV,” kata Khaidir.

Persoalan HIV dan AIDS di Pronvinsi Aceh sudah memasuki fase mengkhawatirkan, Yayasan Permata Aceh Peduli menemukan bocah empat tahun yang terjangkit AIDS di Kota Langsa

“Untuk di Lhokseumawe dan Aceh Utara faktor utamanya terjangkit HIV dan AIDS disebabkan oleh kalangan LGBT, sementara untuk wilayah Aceh bagian timur lebih banyak disebabkan karena seks bebas. Total kasus di Aceh mencapai 1.300 kasus,” katanya.

Kejahatan Tertua
Kasus penjualan gadis Aceh ke Malaysia untuk bisnis prostitusi merupakan kasus yang telah lama terjadi dan sudah menjadi rahasia umum, namun sayang kasus tersebut tidak bisa mendapatkan proses hukum.

Sekretaris Jenderal Integrity Masriadi Sambo mengatakan, praktik-praktik penjualan manusia ke Malaysia merupakan salah satu bentuk kejahatan tertua di Provinsi Aceh, karena sudah terjadi sejak lama sekali.

“Ini merupakan bentuk kasus tertua, bukan hal yang baru dan sudah menjadi rahasia umum. Banyak agen-agen tidak resmi itu bergentayangan di Aceh, terutama bagi mereka yang sudah lama tinggal di Malaysia,” kata Masriadi.

Mengapa sampai saat sekarang ini kasus-kasus penjualan manusia tidak bisa diproses hukum, karena agen yang digunakan tidak terdata secara administrasi, sehingga sangat sulit untuk dilacak.

Orang-orang yang ditugaskan untuk mencari mangsa ke Aceh adalah orang Aceh sendiri, namun telah lama tinggal di Malaysia, sehingga sudah dijadikan bisnis agar bisa bertahan hidup.

“Supaya mereka bisa dapat uang banyak dan bisa bertahan hidup, maka dilakukan cara seperti itu, jadi pulang ke Aceh untuk mencari mangsa dan sampai di Malaysia diberikan sejumlah uang tunai,” kata Masriadi Sambo.

Kasus yang Pernah Ditangani Polisi
Dalam beberapa tahun terakhir, pihak kepolisian di Aceh telah berhasil mengungkap kasus tindak pidana perdagangan manusia, yang melibatkan gadis-gadis Aceh untuk dijual ke Malaysia untuk kepentingan bisnis prostitusi.

Baca juga :  Kisah Waria Pekerja Seksual Di Aceh

Pada Jumat, 7 September 2018 lalu, misalnya, Kepolisian Resor Lhokseumawe berhasil mengungkap praktik perdagangan manusia, yang mengiming-iming korban untuk bekerja di salah satu restoran di Negeri Jiran dan mendapatkan gaji yang layak.

Namun kenyataannya malah berbeda, korban malah disekap dan dijadikan sebagai Pekerja Seks Komersial (PSK), pelakunya berinisial FA, 29 tahun, warga Kota Lhokseumawe, korbannya berinisial NW, 24 tahun dan DY, 29 tahun, juga berasal dari kota yang dikenal dengan julukan “Petro Dolar” itu.

Hal yang sama juga terjadi pada Senin, 13 Januari 2020, dimana Ketua Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA), Safaruddin SH, membuat laporan ke Polda Aceh tentang gadis Aceh yang diduga menjadi korban perdagangan manusia.

Gadis tersebut berinisial SD salah satu warga Kecamatan Langkahan, Aceh Utara. Dirinya berangkat ke Malaysia pada tahun 2015 lalu, dengan menggunakan agen tenaga kerja.

Awalnya putri sulungya itu diajak bekerja di Malaysia oleh tetangganya sendiri, namun orang tuanya sempat tidak mengizinkan, namun anaknya yang berusia 27 tahun itu terus dibujuk hingga beberapa kali.

Bahkan diiming-imingi mendapatkan gaji yang bagus, serta sejumlah fasilitas yang memadai dan apabila seandainya sakit maka langsung diobati, apabila tidak sanggup bekerja lagi maka akan dibawa pulang ke kampung halaman.

Hingga hatinya tergugah dan putrinya memilih berangkat untuk kerja di Malaysia, namun nyatanya setelah berangkat malah SD tidak pernah memberikan kabar ke kampung halaman.

Bukan hanya sebatas itu saja, pada tahun 2012 silam Polda Aceh juga berhasil mengungkap kasus perdagangan manusia, di mana dengan korban dua gadis belia asal Banda Aceh yang melaporkan sempat dijadikan budak seks di Singapura.

Kala itu pihak kepolisian juga berhasil menangkap dua wanita yang berinisial, MI, 19 tahun dan AY, 19 tahun, mereka berdua merupakan sebagai jaringan mucikari. Kasus tersebut terungkap ketika orang tua korban melaporkan bahwa anak gadisnya telah menghilang dari rumah.

Sasaran para mucikari tersebut adalah gadis Aceh yang lugu dan cantik, apalagi yang putus sekolah dan kondisi keluarga yang sedang bermasalah, serta menawarkan untuk jalan-jalan ke Singapura secara gratis.[tagar.id]

Berita terkait