China Ancam Amerika Serikat

 China Ancam Amerika Serikat

Samudrapost | Pemerintah China melayangkan peringatan keras kepada Pemerintah Amerika Serikat, Minggu (17/5/2020). Negeri Tirai Bambu menegaskan akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melindungi Huawei dan perusahaan-perusahaan lain. Ini setelah AS memblokir pengiriman semikonduktor dari pembuat chip global ke Huawei, Jumat (15/5/2020).

“China akan mengambil semua langkah yang diperlukan untuk secara tegas melindungi hak dan kepentingan sah perusahaan-perusahaan China,” ujar Kementerian Perdagangan China, Minggu (17/5/2020), seperti dilansir AFP.

“China mendesak AS untuk segera menghentikan tindakan keliru. Ini adalah ancaman serius bagi rantai pasok global.”

Ancaman pembalasan itu datang sehari setelah Beijing mengecam langkah Washington sebagai “penindasan yang tidak masuk akal terhadap Huawei dan perusahaan China”.

Sebagaimana dilaporkan CNBC Internasional, Departemen Perdagangan AS menyatakan telah mengubah aturan ekspor untuk mencegah akuisisi Huawei terhadap produk semikonduktor yang merupakan produk dari perangkat lunak (software) dan teknologi AS.

“Pengumuman ini mencegah upaya Huawei untuk melemahkan kontrol ekspor AS,” kata Departemen Perdagangan AS.

Kabar pemblokiran Huawei ini, menurut Washington Post, muncul pertama kali ketika produsen semikonduktor Taiwan, TSMC, mengumumkan akan membangun pabrik senilai US$ 12 miliar atau Rp 180 triliun (asumsi kurs Rp 15.000/US$) di Arizona. Langkah ini akan menciptakan 1.600 lapangan pekerjaan baru.

Baca juga :  Erick Thohir: CSR BUMN Akan difokuskan ke Pendidikan dan Lingkungan

Hanya saja, baik TSMC maupun Menteri Perdagangan Amerika Serikat Wilbur Ross, hanya menegaskan bahwa investasi ini sebagai bagian penting untuk memperkuat manufaktur teknologi tinggi di AS.

Sebelumnya pada Mei tahun lalu, pemerintah Trump telah terlibat perselisihan dengan Huawei. Pemerintah AS melarang ekspor teknologi AS ke raksasa teknologi China itu. Namun, Huawei masih dapat membeli semikonduktor yang dibuat di luar AS dengan perangkat lunak dan peralatan AS. Departemen Perdagangan AS mengatakan aturan baru ini dirancang untuk mengatasi celah itu.

Menanggapi perkembangan ini, seorang pemimpin redaksi sebuah surat kabar China yang dikendalikan pemerintah, Global Times, mengatakan Beijing bisa saja mengambil tindakan balasan.

Komentar sang pemred tentang masalah perdagangan AS-China menurut Washington Post sering menjadi indikator yang dapat diandalkan untuk melihat apa yang akan dilakukan Beijing ke depan.

“Berdasarkan apa yang saya ketahui, jika AS lebih lanjut memblokir pasokan teknologi utama ke Huawei, China akan mengaktifkan ‘daftar entitas yang tidak dapat diandalkan’, membatasi atau menginvestigasi perusahaan-perusahaan AS seperti Qualcomm, Cisco dan Apple, dan menunda pembelian pesawat Boeing,” kata Hu Xijin, Editor in Chief di Global Times dalam sebuah postingan.

Baca juga :  PT PIM Terima Padmamitra Award Aceh 2019 Dari Pemerintah Aceh

Boeing adalah pabrikan pesawat komersial yang berbasis di Chicago, Illinois, AS. Boeing adalah kompetitor utama dari pabrikan pesawat Uni Eropa yang berbasis di Prancis, Airbus.

Namun yang jelas, perubahan aturan AS ini akan memukul bisnis Huawei, produsen ponsel terbesar kedua di dunia, begitu juga dengan bisnis TSMC asal Taiwan, produsen utama chip HiSilicon milik Huawei, Apple, dan Qualcomm yang menjadi kompetitornya.

AS sudah berupaya meyakinkan para sekutu untuk mengecualikan komponen Huawei dari jaringan 5G generasi berikutnya dengan dalih: peralatan Huawei berpotensi digunakan sebagai alat mata-mata Pemerintah China. Namun, Huawei itu berulang kali membantah klaim tersebut.

Meski begitu, Departemen Perdagangan AS menegaskan Huawei terus menggunakan perangkat lunak dan teknologi AS dalam merancang semikonduktor, meskipun pabrikan yang berpusat di Shenzhen ini sebelumnya sejak Mei 2019 sudah dimasukkan AS dalam daftar hitam (blacklist). Revisi aturan tersebut sekali lagi untuk menutup celah Huawei ini.

Baca juga :  Akibat Corona, Harga Minyak AS Turun ke level Terendah

Berdasarkan peraturan, perusahaan asing yang menggunakan peralatan pembuat chip AS memerlukan lisensi dari pemerintah AS sebelum memasok chip tertentu ke Huawei ataupun unit usahanya, seperti HiSilicon. Huawei bisa mendapatkan beberapa chipset atau menggunakan beberapa desain semikonduktor yang terkait dengan perangkat lunak dan teknologi AS, asalkan dapat lisensi dari Departemen Perdagangan AS.

Pada Mei 2019, AS menempatkan Huawei dan 114 afiliasinya dalam daftar hitam dengan alasan masalah keamanan nasional. Hal itu memaksa beberapa perusahaan AS dan asing untuk mencari lisensi khusus dari Departemen Perdagangan untuk menjualnya. China yang menjajaki kemitraan dengan pemerintah AS tampaknya frustrasi dengan kendala yang ada.

Selain itu, pekan ini, Trump memperpanjang lagi untuk satu tahun ke depan tentang kebijakan darurat nasional teknologi yang sudah diumumkan Mei 2019. Itu artinya kebijakan itu diperpanjang hingga Mei 2021.[CNBC Indonesia]

Berita terkait