Cerita Warga Sleman Isolasi Di Lahan Kosong Usai Pulang Dari Medan

 Cerita Warga Sleman Isolasi Di Lahan Kosong Usai Pulang Dari Medan

Petugas Medis yang menanganis pasien corona | Sumber Foto: www.liputan6.com

Sleman | Tujuh warga Dusun Rejondani, Desa Sariharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Yogyakarta terpaksa harus menjalani isolasi di sebuah lahan kosong. Mereka baru saja pulang dari Medan, Sumatera Utara, usai menyelesaikan pekerjaan.

Perangkat desa setempat berupaya mencegah adanya penyebaran virus Corona di wilayahnya. Sehingga demi keselamatan bersama, tujuh warga tersebut dinyatakan sebagai Orang Dalam Pemantauan (ODP) dan harus menjalani karantina 14 hari di lahan kosong.

Dani, warga yang mengisolasi diri mengatakan, kebijakan yang dijalani bersama teman-temannya merupakan suatu risiko. Artinya saat memutuskan pulang ke kampung halamannya di tengah pandemi Corona, maka siap mengambil konsekuensi dengan dikarantina.

“Kami tahu konsekuensi seperti apa yang kami terima ketika memutuskan untuk pulang. Mau bagaimana lagi, di Medan pekerjaan kami sudah selesai,” kata Dani yang berkesempatan diwawancarai oleh awak media dengan jarak aman pada Kamis, 14 Mei 2020.

Baca juga :  Menteri Ini Bilang Cadar Ganggu Pelayanan

Menurut dia, bukan perkara mudah bisa kembali ke kampungnya di tengah masa pandemi seperti saat ini. Salah satu syarat yang harus dipenuhi yaitu mereka harus menyertakan hasil rapid test agar bisa menggunakan angkutan penerbangan.

“Kami sudah mengikuti test sebanyak dua kali dan alhamdulillah dinyatakan negatif . Kondisi kami juga baik tidak ada keluhan apa-apa. Lalu kami koorndinasi dengan Gugus Tugas Covid-19 setempat, kami bersedia mengkarantina,” ucapnya.

Dia dan tujuh temannya bernama Faisal, Yadi, Soni, Handoko, Sacramento dan Adioso sebelumnya memang berangkat ke Medan pada 28 April 2020. Mereka mendapat pekerjaan topografi dari Dinas Pekerjaan Umum (PU) Medan. Di mana mereka harus mengukur tanah untuk perbaikan Sungai Deli.

Baca juga :  Peduli Masyarakat Kurang Mampu, Aceh Charity Salurkan 1000 Euro Paket Takjil Melalui Lazismu

Dalam pekerjaan tersebut, mereka ditarget bisa merampungkan selama tujuh hari. Namun mereka mampu menyelesaika pekerjaan tersebut lebih cepat.

Setelah menyelesaikan pekerjaannya, ketujuh pemuda tersebut kemudian memutuskan pulang ke rumah. Mereka juga sempat tertahan di Medan karena adanya pembatasan angkutan penumpang karena wabah Coronavirus.

Namun setelah pemerintah membuka kembali penerbangan, sehingga pada hari Sabtu, 9 Mei 2020 baru bisa kembali ke Yogyakarta. Mereka merasa beruntung masih diterima oleh warga untuk bisa kembali ke kampung halamannya.

Selama diisolasi, dia mengaku diberi pelayanan yang baik oleh warga setempat terutama masalah makanan. Perangkat desa yang memberikan fasilitas di rumah karantina pun cukup memadai. Ada kasur untuk tidur, peralatan memasak, tempat cuci dan kebutuhan lainnya.

Baca juga :  Warga Dikejutkan Temuan Mayat di Aceh Timur, Ini Sebabnya...

“Di sini juga tersedia kompor, galon, kasur, sajadah dan diberikan vitamin serta buah-buahan. Kami juga bisa melakukan kegiatan berkebun bersama karena ini lahan juga banyak tanaman yang bisa kami manfaatkan,” ujarnya.

Kepala Dukuh Rejodani Hendriyan Wiprantoko mengungkapkan, bangunan untuk isolasi mandiri disiapkan warga setempat. Hal ini merupakan kesiapsiagaan masyarakat terkait pencegahan covid-19. Protokol kesehatan bagi warga pendatang pun juga sudah menjadi kesepakatan seluruh warga.

Hendriyan mengatakan, untuk pembangunan rumah isolasi ini warga menghabiskan waktu hingga satu minggu. Warga pun banyak yang berdonasi guna mencukupi kebutuhan logistik bagi para penghuni selama isolasi.

“Pondokan ini memang kami siapkan untuk teman-teman yang baru pulang dari Medan yang wajib menjalankan protokol kesehatan yang ada, yaitu isolasi mandiri,” katanya.[Tagar.id]

Berita terkait