Apabila Perang Dagang Australia-China Terjadi, Siapa Yang Juara?

 Apabila Perang Dagang Australia-China Terjadi, Siapa Yang Juara?

Samudrapost | Pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19) berbuntut panjang. Berawal dari gangguan kesehatan, pandemi ini membuat hubungan antar-negara memburuk.

Serangan virus corona bermula di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Republik Rakyat China. Musim mudik Tahun Baru Imlek di Negeri Tirai Bambu membuat virus menyebar begitu cepat ke penjuru negeri bahkan ke mancanegara.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat jumlah pasien positif corona di seluruh dunia per 19 Mei 2020 adalah 4,73 juta orang. Virus sudah menyebar ke lebih dari 200 negara dan teritori di dunia, hampir tidak ada tempat yang aman.

Wabah virus corona adalah krisis kesehatan dan kemanusiaan. Namun tidak perlu waktu lama untuk membuatnya menjadi krisis sosial-ekonomi.

Pasalnya, pemerintahan di berbagai negara terpaksa memberlakukan pembatasan sosial (social distancing) untuk membatasi ruang gerak penyebaran virus. Kantor dan pabrik tutup sementara, sekolah diliburkan, pusat perbelanjaan dilarang beroperasi, restoran tidak boleh melayani makan-minum di tempat, transportasi publik dibatasi, perbatasan negara ditutup, dan berbagai larangan lainnya.

Akibatnya, roda ekonomi berjalan sangat lambat. Kontraksi (pertumbuhan negatif) terjadi di mana-mana, belum lagi angka pengangguran yang melonjak akibat gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Situasi ini membuat berbagai negara resah, tidak nyaman, bahkan mungkin marah. Semua mata tertuju kepada China, asal-muasal penyebaran virus corona.

Salah satu negara yang cukup keras meminta China untuk bertanggung jawab adalah Australia. Bersama lebih dari 100 lain, Australia berhasil menggolkan penyelidikan terhadap asal-usul penyebaran virus corona ke Mahkamah Kesehatan Dunia (WHA).

“Sekarang sangat wajar jika dunia ingin ada kajian independen tentang bagaimana ini semua bisa terjadi. Jadi ke depan kita bisa mencegah situasi serupa terulang kembali,” kata Scott Morrison, Perdana Menteri Australia.

Baca juga :  Antisipasi Corona, Wali Kota Lhokseumawe Pimpin Penyemprotan Disinfektan Seluruh Kota

Belum lama ini, Menteri Luar Negeri Australia Marise Payne menegaskan bahwa China harus transparan dan membuka semua yang mereka ketahui tentang virus corona. “Perhatian saya terhadap transparansi dari China saat ini sangat tinggi. Saya percaya kepada China, tetapi perhatian saya adalah memastikan bahwa kami layak untuk saling membuka diri,” tegas Payne dalam wawancara bersama ABC, yang dikutip oleh Reuters.

China tentu tidak terima. Beijing menyebut Australia sedang memainkan trik murahan dengan mencari kambing hitam.

“China tidak memainkan trik murahan, ini bukan budaya kami. Namun jika yang lain memainkannya, maka kami harus membalas,” tegas keterangan tertulis Kedutaan Besar China untuk Australia, beberapa waktu lalu.

Well, balasan China sepertinya sudah datang. Awal pekan ini, tiba-tiba impor sereal (barley) asal Australia kena bea masuk anti dumping dan subsidi sebesar 80,5% saat masuk ke tanah Negeri Tirai Bambu. Bahkan bea masuk itu akan dikenakan setidaknya selama lima tahun ke depan, bisa direvisi tergantung situasi dan kondisi.

Tidak hanya barley, China juga mempertimbangkan untuk mempersulit masuknya produk-produk asal Australia lainnya seperti anggur (wine), produk susu (dairy), makanan laut, dan buah-buahan. Caranya adalah dengan pemeriksaan yang lebih ketat, bea masuk, dan penundaan kepabeanan.

Kini Australia yang balas menyebut China memainkan trik murahan. Simon Birmingham, Menteri Perdagangan Australia, mengatakan bahwa yang paling penting adalah isu virus corona, jangan melebar ke hal-hal lain.

Baca juga :  14 Ribu Pekerja di Sumatera Utara di PHK Akibat Dampak Corona

“Australia tidak akan terlibat dalam aksi politik murahan terhadap isu sepenting Covid-19. Covid-19 telah merenggut nyawa ratusan ribu orang di seluruh dunia. Virus ini telah menyebabkan bencana ekonomi dengan jutaan orang kehilangan pekerjaan,” kata Birmingham, seperti dikutip dari Reuters.

Bagaimana pun, api perang dagang Australia-China sudah terlanjur menyala. Dalam hal ini, sepertinya Australia yang bakal kesulitan kalau sampai produknya susah menembus pasar China.

Ambil contoh barley tadi. China adalah negara tujuan ekspor barley terbesar buat Australia. Ekspor barley Australia ke China mencapai AU$ 1,5-2 miliar, lebih dari setengah dari total ekspor barley Negeri Kanguru.

“Tidak banyak pasar alternatif. Bisa saja dijual ke Arab Saudi tetapi dengan harga yang lebih rendah,” kata seorang pejabat pemerintah Australia, seperti diwartakan Reuters.

Sementara China bisa dengan mudah mendatangkan barley dari negara lain seperti Prancis, Kanada, atau Argentina. “Jadi sangat mudah tergantikan,” ujar Andreis De Groen, Direktur Pelaksana Evergrain, seperti dikutip dari Reuters.

Lebih luas lagi, China adalah negara tujuan ekspor utama bagi Australia. Pada tahun fiskal 2017-2018, nilai ekspor Australia ke China mencapai AU$ 106,3 miliar dan berada di peringkat pertama. Jepang, sebagai negara tujuan ekspor kedua terbesar, ‘hanya’ AU$ 49,1 miliar. Wow…

Lima produk ekspor utama Australia adalah bijih besi dan konsentrat (AU$ 96,57 miliar), batu bara (AU$ 64,35 miliar), gas alam (AU$ 48,8 miliar), emas (AU$23,37 miliar), dan daging sapi (AU$ 10,8 miliar). Apesnya, negara tujuan ekspor komoditas utama itu banyak yang menyertakan nama China.

Baca juga :  Istri Bupati Bireuen Positif Terpapar Virus Corona

China adalah pembeli terbesar bijih besi dan daging sapi Australia, dengan nilai masing-masing AU$ 79,48 miliar dan AU$ 2,67 miliar. Untuk batu bara, China adalah pembeli terbesar kedua (AU$ 13,84 miliar), hanya kalah dari Jepang (AU$ 17,05 miliar).

China juga pembeli terbesar kedua untuk gas alam (AU$ 16,16 miliar), lagi-lagi hanya di bawah Jepang (AU$ 20,02 miliar). Kemudian untuk emas, China adalah pembeli terbesar ketiga (AU$ 2,99 miliar), di bawah Inggris (AU$ 11,99 miliar) dan Hong Kong (AU$ 4,1 miliar).

Bagaimana dengan China? Buat China, jualan ke Australia mungkin hanya seujung kuku…

Mitra dagang terbesar China adalah Amerika Serikat (AS). Pada 2018, nilai perdagangan AS ke China mencapai US$ 479,7 miliar.

Berapa ekspor China ke Australia? US$ 47,55 miliar saja. Bahkan Australia tidak masuk 10 besar.

Jadi kalaupun Australia membalas dengan memboikot produk made in China sepertinya tidak terlalu masalah. China masih punya banyak pasar lain untuk dimasuki.

Namun perang dagang bukan soal siapa yang menang dan yang kalah. Ini soal risiko kelumpuhan rantai pasok.

Misalnya saat bijih besi Australia sulit masuk pasar China, mungkin harga produk turunan bijih besi bisa naik karena kekurangan pasokan bahan baku atau kalaupun ada harganya lebih mahal karena kena bea masuk. Ketika China menjual produk turunan bijih besi ke berbagai negara, harganya pun bakal lebih mahal.

Siapa yang menyangka makhluk tidak kasat mata seperti virus corona bisa mengubah tatanan dunia…[CNBC Indonesia]

Berita terkait