Mengapa Pantai Timur Amerika Serikat Menjadi Sarang COVID-19?

 Mengapa Pantai Timur Amerika Serikat Menjadi Sarang COVID-19?

“Jika Anda melihat angkanya, 100.000, itu jumlah paling sedikit korban meninggal akibat virus corona,” tegas Presiden Amerika Serikat Donald Trump, memaparkan prediksi keganasan COVID-19 di Amerika Serikat.

SARS-CoV-2, virus yang menjadi sebab wabah Covid-19, memang bermula di Wuhan, Provinsi Hubei, Cina. Namun, meskipun terlambat dan menuding dokter pertama yang mengabarkan lahirnya virus baru sebagai penyebar hoaks, pemerintah Cina kemudian beraksi cepat dan tegas. Wilayah sekitaran Hubei ditutup, rumah sakit khusus didirikan dengan dalam hitungan hari. Alipay, dompet digital milik Alibaba, turut digunakan untuk mendeteksi sebaran kasus positif COVID-19.

Akibatnya, merujuk data yang dihimpun Johns Hopkins University, per 1 April 2020 kemarin, “hanya” sekitar 82.000 warga Cina yang terinfeksi Covid-19. Pada saat bersamaan, 214.368 orang terinfeksi di AS dan menjadikannya negara dengan jumlah infeksi terbanyak.

Jika prediksi Trump benar, korban tewas akibat COVID-19 akan jauh lebih tinggi dari total korban akibat Perang Vietnam yang berakhir 45 tahun lalu. Céline Gounder, ahli epidemiologi pada New York University kecewa dengan kemungkinan jumlah korban corona itu. Sebagaimana diungkapkannya pada Vox (1/4/2020), estimasi korban sebanyak itu sesungguhnya dapat dihindari AS.

“Jika kita segera melakukan tes dan pemetaan, social distancing, dan mempersiapkan sistem kesehatan tak lama selepas laporan resmi Cina soal Corona keluar, kita akan berada di situasi yang berbeda sekarang,” tegas Gounder.

Bahkan, jika saja Trump mau mendengarkan ‘peringatan’ Bill Gates, AS mungkin akan menjadi negara yang relatif aman dari pandemi. Tapi nasi telah menjadi bubur. Tiga bulan sejak COVID-19 merajalela, AS harus membayar mahal untuk kecerobohannya.

Masalahnya, Trump lalai. Ketika Corona belum terlihat berdampak pada AS, Trump percaya bahwa COVID-19 tidak beda jauh dengan flu biasa. Ia mengatakan bahwa Corona adalah hoaks. Dan hanya dengan ‘firasat’, ia berujar bahwa korban tewas akibat Corona jauh lebih kecil dibandingkan dengan yang dipaparkan para ahli.

Baca juga :  Positif Corona Di Indonesia Menjadi 2.956 per 8 April 2020

Ketika COVID-19 mulai menampakkan diri sebagai ancaman serius, Trump menunjuk Mike Pence sebagai ketua gugus tugas pembasmian Corona. Namun, belakangan Trum mengangkat Jared Kushner, tuan tanah picik dan menantunya, untuk menghalau penyebaran COVID-19 AS.

Buruknya penanganan wabah di AS diperparah lagi dengan masalah klasik khas Paman Sam: penembakan. Sebanyak 80.000 orang masuk Ruang Gawat Darurat setiap tahunnya akibat ditembak. Padahal, jumlah Ruang Gawat Darurat di AS sangat terbatas. Walhasil, penderita COVID-19 dan korban penembakan harus berebut tempat di rumah sakit.

Yang menarik, jika kita melihat peta sebaran COVID-19 di AS, wilayah Pantai Timur relatif mengalami lebih banyak kasus positif dibandingkan wilayah Pantai Barat. Padahal, di Pantai Barat terdapat California, rumah bagi Apple, Google, Microsoft, Facebook, Netflix, dan berbagai studio Hollywood. Bisnis-bisnis ini memiliki tingkat konektivitas yang tinggi dengan berbagai negara di belahan dunia. Bahkan, dalam laporan BBC, seandainya California berpisah dari AS, negara bagian ini akan menjadi negeri terkuat nomor lima di dunia, mengalahkan Inggris, dengan penghasilan sekitar $2,7 triliun.

Tapi, mengapa Pantai Timur jadi yang paling terpapar corona?

Penjelasan sederhana, merujuk peta kepadatan penduduk AS yang dirilis Biro Sensus AS, Pantai Timur adalah wilayah terpadat di AS. Tercatat, ada banyak wilayah yang memiliki tingkat penduduk sebesar 250 orang per mil persegi di sana. Di Pantai Barat hanya California yang paling padat.

Namun, jika melihat lebih seksama, kepadatan penduduk di wilayah Pantai Timur erat hubungannya dengan sejarah kawasan ini, khususnya dalam kaitannya dengan Eropa.

Pantai Timur: Gerbang Utama Amerika Serikat
Pada 1492, Christopher Columbus berlayar dari Spanyol hendak menuju Hindia Timur (India dan Asia Tenggara). Google Maps belum lahir saat itu, sehingga wajar belaka ia tersesat dan mendarat di Bahama, kepulauan yang hanya berjarak selemparan batu dari wilayah yang kini bernama Amerika Serikat.

Baca juga :  Perempuan Aceh Tersudut Pelecehan Seksual

Di Eropa, kampung halaman Columbus, penemuan pulau itu mengagetkan. Orang-orang Eropa yakin tempat yang baru ditemukan itu menyimpan emas. Ekspedisi-ekspedisi pun segera digalakkan menuju Amerika. Hernando de Soto, misalnya, mengikuti jejak Columbus hingga berakhir di Mississipi, sementara Ponce de León menemukan Florida.

Pada 1565, penjelajah Eropa kemudian mendirikan kota pertamanya di Amerika, St. Augustine.

Jika diperhatikan, wilayah-wilayah yang “ditemukan” para pelayar Eropa adalah wilayah yang kini masuk ke dalam Pantai Timur AS. Max Fisher dan Dylan Matthews, dalam laporannya untuk Vox, menegaskan hal ini. Wilayah Pantai Timur, dengan negara-negara bagiannya seperti Maine, New Hampshire, Massachusetts, New York, Pennsylvania, Maryland, Virginia, Carolina, Georgia, dan Florida merupakan kawasan awal yang disentuh masyarakat Eropa. Para pelaut yang berlayar bersama Menendez de Aviles dari Spanyol pada 1565 tiba sekitar Georgia. Pada 1524, ekspedisi Verrazano dari Inggris tiba di sekitar Carolina hingga Virginia. Pada 1591, pelayaran yang dipimpin nahkoda Inggris bernama Cabot tahun 1591 sampai di Maine.

Mengapa Pantai Timur jadi lokasi paling awal ditemukan? Alasannya mudah saja. Seandainya Bumi datar dan tidak bulat, orang-orang Eropa akan melihat Pantai Timur AS dengan mudah.

Karena paling awal terjamah, tak heran Pantai Timur menjadi yang pertama berkembang. Pada 1607 koloni Eropa pertama di Amerika berdiri di Jamestown. Hingga 1732, dengan pendirian Georgia, ada 13 koloni di Amerika. Semuanya terletak di Pantai Timur. Koloni-koloni itu berada di bawah kekuasaan Kerajaan Inggris, sehingga banyak tempat-tempat di sana bernama Inggris. Carolina, misalnya, dinamai demikian untuk menghormati Charles I. Carolina sendiri berasal dari Carolus, nama latin untuk Charles. Nama negara bagian Virginia juga merujuk Elizabeth I. Sementara York, Hampshire, dan Jersey mengacu pada kota-kota bernama sama di Inggris.

Baca juga :  300 Kasus Covid-19 Di Aceh Tamiang

Masih merujuk catatan Fisher dan Matthews, migrasi besar-besaran warga Eropa di abad ke-17 masuk lewat Pantai Timur. Tercatat, ada lebih 20.000 warga Eropa yang masuk ke New England dan Maryland pada dekade 1620-an.

Karena jadi yang pertama berkembang, di wilayah ini pula segala aktivitas sosial, politik, dan ekonomi berpusat. Revolusi Amerika pada 1775 hingga 1781 terjadi di wilayah-wilayah Pantai Timur.

Menurut Jean-Paul Rodrigue dalam buku berjudul “The Geography of Transport Systems (2006), titik konektivitas Amerika dengan dunia luar berpusat di Pantai Timur, dari dulu hingga saat ini. Pada 1825, Amerika menciptakan sistem kanal pertamanya, Erie Canal, guna menopang laju barang. Lalu, pada 1834, pertama kalinya rel kereta dipasang untuk menghubungkan Philadelphia dan Columbia. Selama 30 tahun semenjak diperkenalkan, Amerika membangun rel kereta sepanjang 46.500 kilometer. Semuanya berada di Pantai Timur.

Masih merujuk Rodrigue dalam peta yang dipaparkannya, barang-barang singgah di Amerika dari belahan dunia di Pantai Timur. Pada era modern, jalur transatlantik diperkenalkan dengan titik pusatnya di wilayah-wilayah Pantai Timur untuk menghubungkan Amerika dan belahan dunia.

Tercatat, bandara-bandara tersibuk AS berada di wilayah Pantai Timur. Hartsfield–Jackson Atlanta International Airport, yang mengakomodasi 103,9 juta penumpang per tahun, berada di wilayah Georgia. O’Hare International Airport, bandara yang menerbangkan 79,8 juta penumpang setiap tahun, terletak di Illinois. Dallas/Fort Worth International Airport, tempat di mana 67 juta penumpang menginjakkan kaki, berada di wilayah Texas.

Bandara AS tersibuk dari wilayah Pantai Barat hanya diwakilkan oleh Los Angeles International Airport di California yang melayani 84,5 juta penumpang setiap tahun.

Dari dulu hingga kini, Pantai Timur lebih ramai dan lebih terkoneksi dengan dunia dibandingkan Pantai Barat. Ratusan tahun kemudian, konektivitas bersejarah itu rupanya memakan korban yang tak sedikit di tengah pandemi COVID-19.

Berita terkait