Berkunjung ke Simatalu, Destinasi Wisata Sejarah, Alam dan Budaya

 Berkunjung ke Simatalu, Destinasi Wisata Sejarah, Alam dan Budaya

SIBERUTBARAT-Siapa yang tak kenal daerah Simatalu, daerah yang terletak di Kecamatan Siberut Barat, Kabupaten Kepulauan Mentawai. Nama Simatalu sepertinya sudah banyak yang tahu terutama orang Mentawai namun untuk berkunjung ke Simatalu belum semuanya yang punya kesempatan.

Simatalu bagi orang Mentawai merupakan daerah yang bersejarah sebab dari daerah inilah diyakini pertama kali orang Mentawai menyebar di seluruh Kepulauan Mentawai. Tak hanya memiliki nilai sejarah, Simatalu memiliki objek wisata indah yang dinikmati bila mengunjunginya. Misalnya wisata alam, wisata budaya. Untuk wisata alam pesonanya dapat kita lihat dibagian jalur pantai.

Pesona pantai yang berpasir putih gading akan memberikan pesona sendiri. Apalagi pantainya dipagari pohon kelapa yang jumlahnya ribuan bahkan jutaan batang. Pesona ini dapat dinikmati mulai dari Betaet Desa Simalegi Kecamatan Siberut Barat menuju Saikoat, Limu dan Bojo Desa Simatalu. Saikoat, Limu, Bojo merupakan dusun yang ada di Desa Simatalu bagian pantai.

Lalu dari Bojo masuk ke bagian pintu muara Simatalu akan terlihat pemandangan batu dinding yang menjadi dinding pertahanan pintu masuk muara sungai Simatalu. Untuk menikmati tebing batu yang tinggi yang dibentuk oleh alam ini dapat dinikmati pada pasang surut air laut. Bagi anda yang ingin menguji adrenalin untuk panjat tebing, lokasi ini cukup menantang untuk ditaklukkan.

Baca juga :  Oleh-oleh Laweung, dari Timun Tikus hingga Pisang Berangan

“Kalau dari arah laut di atas kapal atau di atas boat kita melihat dinding batu itu seperti dinding batu sebuah kerajaan. Namun untuk keluar-masuk pintu muara Simatalu perlu keahlian seorang operator boat,” kata Suwandi, salah seorang warga Simalibbeg, Desa Simatalu.

Dari Bojo kemudian bisa bejalan menuju Muntei menyusuri pantai hingga Simalibbeg sebagai pusat administrasi Desa Simatalu. Dari Bojo bisa menggunakan sepeda motor atau jalan kaki. Setidaknya butuh waktu 1,5-2 jam untuk berjalan kaki atau setengah jam naik sepeda motor.

Setelah masuk di bagian Muntei-Simalibbeg, perjalanan dapat dilanjutkan dengan menggunakan perahu pompong menyisir Kulumen, Masaba, Limau. Dari Masaba menuju Limau Anda akan melihat Leleu (bukit) Bajak sebagai bukit yang tinggi dan keramat di Simatalu. Saking keramatnya, warga setempat menyarankan bagi pengunjung baru pertama kali ke Simatalu bila melewati leleu bajak tidak boleh menunjuk atau melihat panjang dan berteriak. Bila hal itu dilakukan maka  akan jatuh sakit.

Menurut cerita dari beberapa orang, dikatakan Leleu Bajak karena tempat tinggalnya si bajak si kelak kulit. Jadi, leleu tempat si bajak untuk mencari kesejukan dengan bersantai di atas bukit. Namun ada lagi yang mengatakan kalau leleu bajak merupakan milik suku Saleleubaja.

Baca juga :  Rumoh Aceh, Simbol Imajiner Keterikatan dengan Ka’bah

Untuk jalur sungai lainnya di wilayah Simatalu, ada jalur sungai menuju Dusun Suruan. Suruan ini dibentuk sekitar tahun 2006 dengan penduduk dari masyarakat yang tinggal dipinggiran sungai dan kandang babi. Orang luar Simatalu mengenal mereka sebagai suku Sapokkak. Atraksi turuk (tarian)laggai sebagai tari Mentawai akan terlihat asli di daerah ini. Pada umumnya wilayah Simatalu masih memiliki turuk laggai yang asli dan memukau.

Dalam tiga kali kegiatan Festival Pesona Mentawai yang menjadi ajang promosi pariwisata Mentawai, dari Kecamatan Siberut Barat selalu membawa tim turuk laggai dari Desa Simatalu. Hasilnya tidak mengecewakan. Setiap mereka tampil selalu membuat pengunjung kagum dan terkesima. Begitu juga dengan ogok atau riasan kepala seorang sikerei perempuan atau pengantin perempuan. Bahan ogok dari alam dan hewan memberikan ciri khas dan nuansa tersendiri terhadap ogok Mentawai asal Simatalu.

Kepala Desa Simatalu, Stefanus Siribere mengatakan pariwisata Simatalu akan dikelola dengan baik dan akan dipromosikan untuk dijadikan sebagai salah satu tujuan destinasi wisata alam dan budaya.

Baca juga :  Arab Saudi Mulai Terbuka buat Turis, tapi Tetap Ada Aturannya

“Simatalu memiliki potensi ini, apalagi Simatalu sebagai tempat asalnya orang Mentawai dan asal budaya,” ujarnya.

Untuk ke Simatalu Kecamatan Siberut Barat, Anda bisa naik kapal antar pulau atau naik boat dari pelabuhan Pokai Desa Sikabaluan. Bila cuaca baik, kapal antar pulau akan melayani rute ini setiap hari Selasa malam atau Rabu pagi dengan ongkos Rp50 ribu. Namun bila tidak ada kapal dan boat yang disediakan oleh pihak antar pulau, anda bisa mencari informasi boat pedagang yang berangkat menuju Betaet Desa Simalegi. Untuk naik boat pedagang masing-masing akan dikenakan tarif Rp250-300 ribu per orang. Dari Betaet Desa Simalegi sebagai pusat kecamatan, perjalanan anda akan dilanjutkan menuju Sumatalu menggunakan jalur darat dengan naik ojek. Tarif ojek antar Rp200-250 ribi dari Betaet hingga Muntei-Simalibbeg Desa Simatalu.

Di Muntei-Simalibbeg perjalanan akan dilanjutkan menggunakan perahu pompong untuk mengunjungi Simatalu bagian hulu, seperti Paipajet hulu, Kulumen, Masaba, Limau, Suruan. Untuk tarif perahu pompong ini antara Rp300 ribu hingga Rp1 juta. Dan ada baiknya anda memakai pemandu orang lokal yang anda kenal atau orang dari luar Simatalu yang paham dengan medan dan masyarakat setempat. [MK]

Berita terkait