Harga Dolar Mendekati 17.000 Rupiah, Industri Bisa Berdarah-darah

 Harga Dolar Mendekati 17.000 Rupiah, Industri Bisa Berdarah-darah

Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terperosok cukup dalam akibat memburuknya sentimen pelaku pasar di tengah pandemi COVID-19. Mengutip data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot sudah terdepresiasi 8,38 persen ke level Rp16.500 per dolar AS dalam sepekan terakhir.

Senin lalu (23/3/2020), rupiah bahkan menyentuh Rp16.650 per dolar AS. Terakhir kali rupiah tercatat di level ini pada Juni 1998—saat krisis moneter melanda Indonesia. Di dalam negeri, melambungnya harga dolar AS membuat sejumlah industri yang mengandalkan bahan baku impor berdarah-darah. Salah satu yang paling terdampak adalah industri baja.

Ongkos produksi mereka bisa terkerek lantaran harga slab atau bahan baku setengah jadi dan bijih besi impor kian mahal, sementara sebagian besar pendapatan mereka diperoleh dalam bentuk rupiah. Ketua Umum The Indonesian Iron & Steel Association (IISIA), Silmy Karim, mengatakan, para produsen baja kesulitan kini untuk menetapkan pembelian bahan baku dan menentukan harga jual.

“Misalnya beli bahan baku dengan kurs Rp16ribu per dolar AS, apa konsumen produk kita bisa menerima langsung? Kan, enggak bisa,” ucap Silmy saat dihubungi reporter Tirto, Selasa (24/3/2020).

Baca juga :  Kisah Edi Hartono Membangun Kelompok Usaha Kontainer Modifikasi Dan Kuliner

Di sisi lain, kata Silmy, pasar ekspor baja sedang tak bersahabat. Perlambatan pertumbuhan ekonomi di berbagai negara membuat permintaan baja menurun, baik itu konstruksi maupun baja untuk keperluan industri.

Merujuk Data Badan Pusat Statistik, komoditas HS 72 yaitu kelompok besi dan baja memang mengalami penurunan ekspor terbesar selama Februari 2020 kemarin.

Secara bulanan atau month to month (mtm) nilainya turun 211,3 juta dolar AS dari posisi Januari 2020 yang masih di kisaran 821,6 juta dolar AS.

Penurunan ini cukup parah jika dibandingkan komoditas lain seperti Alas Kaki (HS 64) yang turun 86,4 juta dolar AS; Tembaga dan barang daripadanya (HS 74) 44 juta dolar AS serta Pulp dari kayu (HS 47) sebanyak 41,7 juta dolar AS.

“Ekspor baja tentu berpengaruh karena permintaan menurun akibat aktivitas di dunia menurun,” urai Direktur Utama Krakatau Steel tersebut.

Baca juga :  Harga Emas Dunia Turun Tipis

Industri Otomotif dan Elektronik Tercekik

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bidang Industri Johnny Darmawan Danusasmita menuturkan, dampak pelemahan nilai tukar ini juga menerpa industri otomotif dalam negeri. Pasalnya industri ini tergolong cukup bergantung impor komponen sehingga pasokannya semakin seret karena kendala harga.

Pukulan terhadap industri ini bahkan sudah terjadi jauh sebelum pelemahan nilai tukar rupiah terjadi. Menurunya produksi komponen otomotif, ketika COVID-19 merebak di Cina, berujung penurunan impor bahan baku selama Januari-Februari 2020.

“Dampaknya pasti ada (pelemahan rupiah). Pabrik bulan-bulan ini (Maret 2020) kritis, April sudah tidak ada stok,” ucap Johnny saat dihubungi reporter Tirto, Selasa (24/3/2020).

Johnny mengatakan kondisi ini membuat para produsen otomotif memangkas target penjualan kendaraan di tahun 2020 menjadi hanya 900 ribu unit saja. Padahal di tahun 2019 lalu, realisasi penjualan mereka sudah turun 10,81 persen menjadi 1.026.921 unit dari tahun 2018 yang mencapai 1.151.413 unit.

Ekspor otomotif ke luar negeri juga berpotensi menurun mengingat kesulitan berbagai negara menanggulangi wabah COVID-19. “Ekspor dan domestik akan kena (dampaknya).

Baca juga :  Plt Gubernur Dukung Program Bank Internasional di Aceh

Komponennya enggak ada kok,” imbuh Johnny. Ketua Umum Asosiasi Industri Perangkat Telekomunikasi Indonesia Ali Soebroto menyatakan pelemahan nilai tukar ini juga bakal membuat para produsen yang tergabung di asosiasinya tercekik.

Sebab, hampir semua produk telematika dan elektronika bagi konsumen global termasuk Indonesia, didominasi material bahan baku dari Cina. Alhasil pembelian melalui mata uang dolar tidak terhindarkan apalagi di tengah pelemahan rupiah.

“Saat ini (pemasok) masih menjual material bulan sebelumnya jadi masih bisa memakai kurs lama, namun kalau awal bulan depan rupiah tidak menguat, konsekuensinya harga akan naik,” ucap Ali.

Tak jauh berbeda dengan industri lainnya, Ali menyebutkan, industri elektronika juga tengah kesulitan melakukan ekspor. Kalau pun ada permintaannya cukup kecil dan harga dagangan mereka menjadi anjlok. Kendati demikian, penyebab utama terpuruknya industri ini bukan virus Corona dan perlambatan ekonomi di berbagai negara. Melainkan, kata Ali, “karena belum bisa kompetitif di pasar global”.[TR]

 

Berita terkait