In Memoriam: Hermandar, Memurnikan Makna Perjuangan

 In Memoriam: Hermandar, Memurnikan Makna Perjuangan

Catatan : Prof. Dr. Apridar

(Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Malikussaleh)

Perjuangan dalam kehidupan tidak selalu harus berakhir dengan kekuasaan sebagaimana yang diinginkan banyak orang. Tujuan akhir perjuangan seolah haruslah berupa kekuasaan dan uang. Dua faktor itu menjadi parameter keberhasilan. Tanpa salah satu atau keduanya, makna perjuangan menjadi dangkal, tidak menginspirasi, dan tidak patut dijadikan teladan.

Begitulah yang kita saksikan dalam kehidupan ini. Tuntutan kebutuhan dalam kehidupan membuat ukuran keberhasilan semakin materialistis dan kasat mata. Perjuangan dalam senyap dengan keberhasilan standar seolah tidak bernilai, padahal itulah esensi perjuangan tanpa pamrih, perjuangan yang murni tanpa tawar-menawar dengan segala yang berbau kekuasaan dan materialistik.

Dalam konteks demikian sosok Hermandar Puteh bisa dilihat. Ia berangkat dari nol tanpa pernah berusaha mengoptimalkan seluruh kemudahan yang ada sebab kemudahan tersebut tidak lahir dari cucuran keringatnya sendiri. Keberhasilan saudaranya bukanlah keberhasilannya sehingga ia merasa tidak pantas ikut mencicipi keberhasilan tersebut meski untuk kebutuhan minimalis—sesuatu yang dianggap lumrah zaman sekarang ini.

Barangkali ia merasa rendah ketika memanfaatkan keberhasilan saudara-saudaranya. Bukan semata persoalan kemandirian hidup, tapi ia merasa tidak pantas ikut tertawa dalam keberhasilan tersebut sementara kontribusinya sangat rendah dan ada orang lain dalam gerbong keberhasilan itu yang sudah berjasa. Hermandar memilih menepi, dan mengarungi kehidupan tertatih dengan caranya sendiri. Ia memilih jalan senyap daripada hidup bergelimpangan kemudahan dengan memanfaatkan koneksi. Padahal di zaman ini, kekuatan jaringan telanjur dipandang sebagai salah satu jalan sukses.

Baca juga :  Indiana Jones and The Kingdom of the Crystal Skull, Tayang Di Bioskop Trans TV

Hermandar bisa dikenang sebagai seorang jurnalis, dosen, sekaligus penulis. Tidak mudah bagi dia untuk menjalani ketiganya di tengah berbagai keterbatasan yang ada. Namun, tanpa perlu menunjukkan kepada dunia, ia memilih berjuang untuk mewujudkan mimpi-mimpi sebagai wartawan dan dosen.

Hermandar Puteh

Ia langsung memilih Jakarta sebagai medan perjuangan dalam membangun karier. Tentu saja tidak mudah menaklukkan Jakarta. Hermandar menyadari itu. Ketika mengurus sebuah penerbitan majalah sampai pagi, seorang sahabatnya mengatakan untuk apa ia melakukan itu dengan penghasilan tidak seberapa. “Lebih baik kamu pulang ke Aceh, jadi PNS saja dengan menggunakan beking saudaramu,” kata sahabatnya ketika melihat Hemandar masih mengedit berita sampai Subuh.

Hermandar hanya tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya. Dia memang kembali ke Aceh dan menjadi dosen di Universitas Malikussaleh. Namun, tidak pernah menjadi PNS setelah gagal memenuhi beberapa persyaratan, terutama usia. Status tidak mengendurkan semangatnya dalam mengabdi terhadap dunia akademik dan jurnalistik. Hal itu diakui beberapa teman terdekatnya yang sering terlibat dalam berbagai kegiatan akademik dan literasi. “Ketika kami akan rapat kerja di Takengon (Aceh Tengah), Hermandar beberapa kali menelepon. Saya tidak mengangkat karena tahu dia sedang sakit tapi memaksakan diri untuk ikut,” ungkap seorang pegawai di Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Malikussaleh ketika melayat ke rumah duka pada delapan November 2019.

Baca juga :  Pasangan Sesama Jenis dari Irlandia Segera Menikah

Kenangan yang cukup mengesankan, pada saat pengusulan guru besar di Universitas Malikussaleh, Prof. A. Hadi Arifin, yang harus sudah masuk usulan paling lambat pada Jumat, 26 Desember 2006. Tanggal tersebut merupakan hari kerja terakhir menerima usulan guru besar yang berpendidikan strata dua. Di atas tanggal tersebut usulan yang dipersyaratkan salah satunya harus sudah berpendidikan strata tiga atau doktor. Pak Hadi sudah menyiapkan semua berkas dan yang belum selesai adalah pengeditan dan percetakan buku beliau yang diserahkan dua hari sebelumnya kepada Hermandar.

Tanpa banyak bicara Hermandar terus bekerja lembur selama dua hari berturut-turut hingga tepatnya pukul 14.30 WIB baru selesai dikerjakan sampai dengan percetakannya. Ia berinisiatif untuk segera mengantarkan buku tersebut dari Kota Depok, Jawa Barat, ke Gedung Dirjen Dikti di Jakarta Pusat yang sudah ditunggui oleh Bapak Zulfan sebagai Kabag Kepegawaian. Hitungan normal buku tersebut akan sulit sampai bila dibawa dengan kendaraan roda empat dalam waktu satu setengah jam. Hermandar berisitif mengantarkannya dengan penuh tanggung jawab menggunakan motor walaupun dalam keadaan hujan deras.

Dengan kelihaian mencari jalan alternatif yang tidak macet, akhirnya saat yang menegangkan tersebut dapat dicapai dan buku tersebut diserahkan kepada Bapak Zulfan yang telah dibungkus dengan plastik agar tidak basah. Buku tersebut merupakan kelengkapan kunci dalam usulan guru besar, sepuluh menit sebelum waktu penerimaan usulan berakhir atau tutup kantor. Tindakan heroik yang dilakukan Hermandar, merupakan salah satu dukungan yang diberikannya kepada  Prof. Drs. A. Hadi Arifin, M.Si., sebagai rektor kala itu untuk memperoleh kesempatan menggapai guru besar pertama dari Universitas Malikussaleh.

Baca juga :  Telur dan Perayaan Paskah

Dalam beberapa tahun belakangan ini, Hermandar memang mengalami masalah dengan kinerja ginjalnya sehingga harus cuci darah secara rutin. Meski sudah berupaya mengobati, takdir Allah menghendaki lain. Hermandar bin Abdurrahman akhirnya menghadap sang Khalik di Rumah Sakit Umum Cut Meutia, Lhokseumawe. Dia meninggalkan seorang istri dan dua anak, Icha sebelas tahun serta Azka Ramadhan Puteh yang masih berumur empat tahun.

Setelah ayahnya dikuburkan di Kareung Bireuen, sewaktu salat Magrib di meunasah yang tak jauh dari kuburan, Azka yang baru keluar dari rumah neneknya mencegat saya. Dia menyerahkan selimut dan meminta ayahnya diselimuti karena tidur di pasir. Saya langsung memeluk dan menggendong Azka dan membawa ke makam ayahnya. “Ayah sudah menghadap Allah, tidak perlu selimut lagi,” kata saya.

Pada Jumat, 6 Desember 2019, genap 30 hari Hermandar pergi. Kami sekeluarga dan teman-temannya mengenang Hermandar sebagai sosok yang sederhana, yang memilih berjuang dalam kesenyapan tanpa menjadikan jabatan dan materi sebagai ukuran kesuksesan. Nilai perjuangan seperti itulah yang menjadi panutan, setidaknya bagi orang-orang terdekatnya—syukur-syukur bagi orang lain.[]

Berita terkait