Rumoh Aceh, Simbol Imajiner Keterikatan dengan Ka’bah

 Rumoh Aceh, Simbol Imajiner Keterikatan dengan Ka’bah

Bentuk Rumoh Aceh memanjang dari timur ke barat, dengan bagian depan menghadap ke timur dan belakang berada barat. Arah barat mencerminkan upaya masyarakat Aceh untuk membangun garis imajiner dengan Ka’bah.

Rumoh Aceh merupakan rumah tradisional Aceh yang sudah jarang ditemui. Berbentuk  rumah panggung yang tingginya sekitar 2,5-3 meter dari atas tanah, memiliki tiga atau lima ruangan,  dengan 16 tiang untuk 3 ruangan dan 24 tiang untuk rumah 5 ruangan.

Di pintu utama terdapat tangga yang tingginya sekitar 120-150 cm yang membuat siapa pun yang masuk harus sedikit merunduk. Hal ini bermakna penghormatan kepada tuan rumah. Selain itu tangga juga bermakna sebagai titik batas, sebagai alat kontrol sosial dalam melakukan interaksi antar masyarakat. Apabila di rumah tidak ada anggota keluarga laki-laki, maka pantang bagi tamu yang bukan keluarga dekat atau muhrim untuk naik ke rumah.

Bagian bawah disebut dengan yup moh/miyup moh, yakni bagian antara tanah dan lantai rumah. Dipakai menyimpan berbagai benda, seperti jeungki (penumbuk padi) dan kroeng (tempat menyimpan padi). Selain itu juga tempat beraktivitas anggota keluarga, seperti bermain anak-anak, para perempuan membuat kain songket Aceh dan ada yang dipakai untuk kandang ternak.

Baca juga :  19 Tim Ikut Arung Jeram Internasional, Ini Kata Wakil Bupati Aceh Tenggara

Di bagian dalam, terdapat ruang depan, ruang tengah, dan ruang belakang. Ruangan depan disebut seuramoe reungeun yang berisi bilik atau kamar. Ruangan tersebut berfungsi untuk menerima tamu, tempat tidur-tidur anak laki-laki, dan tempat perjamuan tamu.

Ruangan tengah atau seuramoe teungoh merupakan bagian inti dari rumoh Aceh, biasa disebut rumoh inong atau rumah induk. Kawasan ini memiliki dua bilik di kanan dan kirinya, menghadap utara atau selatan dan pintu menghadap ke belakang. Rumoh inong biasanya menjadi ruang tidur kepala keluarga dan anjong untuk tempat tidur anak gadis. Di bagian atas seuramoe teungoh, sering diberi loteng yang berfungsi untuk menyimpan barang-barang penting keluarga.

Baca juga :  Rumah Kopi Gayo itu Bernama Takengon

Ruangan belakang disebut seuramoe likot yang memiliki tinggi lantai sama dengan seuramoe reungeun, tidak mempunyai sekat. Dipergunakan untuk dapur dan tempat makan serta ruang keluarga.

Bahan utama rumah dari kayu digunakan untuk membuat tameh (tiang), toi, roek, bara, bara linteung, kuda-kuda, tuleueng rueng, indreng, dan serta dibuat papan untuk membuat lantai dan dinding rumah. Sedangkan trieng atau bambu dimanfaatkan untuk membuat gasen (reng), alas lantai, beuleubah (tempat menyemat atap), dan lain sebagainya.

Bagian atap, penutup dinding serta lantai menggunakan enau atau aren sebagai pengganti daun rumbia. Dan pengikatnya tidak menggunakan paku, tetapi menggunakan pasak atau tali pengikat dari ijuk, rotan, atau kulit pohon waru.

Dalam rumoh Aceh, ada beberapa motif hiasan yang dipakai, yaitu motif keagamaan berupa ukiran huruf arab yang diambil dari ayat-ayat al-Quran,  motif flora berbentuk daun, akar, batang, serta bunga-bungaan yang tidak diberi warna, kalaupun warna digunakan merah dan hitam. Motif hiasan ini biasanya terdapat di rinyeuen (tangga), dinding, tulak angen, kindang, balok pada bagian kap, dan jendela rumah. Motif fauna, berupa binatang-binatang yang sering dilihat dan disukai di empunya rumah, serta motif alam seperti langit dan awannya, langit dan bulan, serta bintang dan laut.

Baca juga :  Melihat Potensi Wisata Bahari Di Lhokseumawe

Untuk melihat bentuk asli rumoh Aceh kini memang sudah sangat jarang. Salah satu yang masih mempertahankan rumoh Aceh adalah Museum Negeri kota Banda Aceh, rumoh Aceh Cut Nyak Dhien di Desa Lampisang, Kecamatan Lhok Nga, dan rumoh Aceh Cut Meutia di Desa Mesjid Pirak, Kecamatan Matang Kuli, Aceh Utara.

Salah satu rumoh Aceh tergolong besar besar, peninggalan tahun 1800-an, adalah milik keluarga Raja-raja Pidie, Almarhum Pakeh Mahmud (Selebestudder Pidie Van Laweung) di persimpangan jalan Peukan Pidie, Kabupaten Sigli, yang memiliki 80 tiang, dengan ukuran tiang penyangga utama 20 – 35 cm.

|PESONA INDONESIA

Berita terkait