Membincang Moderasi Beragama

 Membincang Moderasi Beragama

Moderasi beragama merupakan langkah solutif dalam meneguhkan komitmen kebangsaan dan keagamaan (Islam) bagi seluruh warga negara Indonesia. Pasalnya, arena perpolitikan di jagat negeri ini bekakangan sangat kental dicampuradukkan dengan isu-isu keagamaan.

Justifikasi keagamaan untuk meraih kepentingan politis-pragmatis sangat lekat dalam proses pemilihan tersebut, sehingga kadang sampai pada klaim sepihak bahwa yang berbeda dengan pilihan politiknya dinilai secara ex officio sudah “murtad” secara keagamaan, meskipun meyakini agama yang sama. Ruang publik semakin dikotori dengan pengapnya pemberitaan dan informasi hoax, fitnah, makian dan hinaan, baik yang dialamatkan kepada pasangan calon maupun para pengusungnya. Terutama melalui media sosial, hampir tidak dapat dibedakan mana informasi yang valid dengan informasi kebohongan. Walhasil, kondisi ini tentu sangat tidak produktif dalam menjalin kebersamaan dan kesatuan sebagai anak sebuah bangsa.

Moderasi beragama semakin bergaung terlebih dilakukan oleh Kementerian Agama. Lukman Hakim Saifuddin (LHS), selaku pimpinan tertinggi instansi itu, kerap kali menyerukan betapa pentingnya merumuskan, mengkampanyekan, dan mendesiminasikan moderasi beragama dalam semua sendi kehidupan sehari-hari.

Dalam berbagai kesempatan, baik dalam kontek pendidikan Islam, penyelenggaraan haji dan umrah, maupun urusan bimbingan kemasyarakatan beragama, LHS secara lantang menggaungkan untuk menjadikan moderasi beragama sebagai ruh dalam pelaksanaan kebijakan dan program di lingkungan Kementerian Agama, secara khusus, dan kehidupan kebangsaan, secara umum. Bagi LHS, bangsa Indonesia saat ini butuh obat untuk merekatkan dan menyadarkan kembali untuk meneguhkan jati diri bangsa Indonesia dengan tidak sembarangan memanfaatkan keluhuran dalam beragama untuk meraih kepentingan politis-pragmatis; dan obat itu adalah moderasi beragama.

Setidaknya ada 2 (dua) kata kunci dalam memahami moderasi beragama. Pertama, moderasi beragama meniscayakan untuk mendudukkan agama itu dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari sebagaimana fungsi agama yang semestinya. Fungsi agama itu di antaranya adalah untuk menjamin keluhuran harkat martabat manusia (humanity). Jati diri manusia agar dijaga, dihargai, dan dijadikan prioritas dalam sikap beragama. Sejatinya, agama itu sendiri diturunkan oleh Tuhan untuk manusia (hudan linnas). Sebab, yang membutuhkan agama adalah manusia, bukan Tuhan.

Baca juga :  Gas Air Mata Bikin Pedih dan Sesak, Begini Cara Menangkalnya

Dalam konteks ini, kita perlu merumuskan, memahami, dan menempatkan agama agar dapat dipahami dalam bahasa dan kemaslahatan kemanusiaan. Oleh karenanya, di dalam memahami agama perlu berfikir secara kritis-rasional dan memiliki perspektif humanisme dalam beragama. Berfikir kritis-rasional dipentingkan agar agama tidak terjebak ke dalam “dogma-dogma” yang manusia sendiri tidak dapat memahaminya. Pemahaman leksikal, letterlejk, tekstual yang tercerabut dari konteks ruang-ruang kemanusiaan akan berpotensi menghilangkan substansi agama itu sendiri. Sementara perspektif humanisme akan mendorong bagaimana agama itu dapat dijalankan dan diamalkan oleh manusia dengan lebih baik.

Kata kunci kedua dalam memahami moderasi beragama adalah menempatkan relasi agama dengan kebangsaan yang produktif. Agama merupakan sumber ajaran dan nilai yang menginspirasi atas praktik-praktik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Demikian juga, negara-bangsa menjamin agar kepentingan semua agama-agama itu dapat dihargai, dirawat dan diselenggarakan dengan baik. Relasi agama dan negara menjadi saling membutuhkan dan saling mengisi, bukan saling menegasikan antara satu dengan yang lain.

Dalam konteks keindonesiaan, agama yang lahir, tumbuh dan berkembang itu amat beragam. Tidak hanya agama tertentu, tetapi juga ada agama-agama lain yang memang telah lahir dan ada di negeri ini. Bahkan, keragaman di Indonesia bukan hanya pada agama, tetapi juga pada budaya, bahasa, suku dan golongan. Keragaman ini merupakan anugerah Tuhan yang amat luar biasa sehingga patut untuk disyukuri dan dijaga bersama. Keragaman ini menjadi ciri khas Indonesia yang sudah menjadi sunnatullah. Tinggal, kita diharapkan dapat merawat keragaman ini sehingga menjadi kekayaan Indonesia yang luar biasa.

Dalam konteks relasi agama dan negara di Indonesia menjadi keunikan tersendiri. Oleh karena keragaman itu, Indonesia mustahil untuk mendasarkan ideologi kebangsaannya hanya atas dasar satu agama tertentu saja. Sebab, jika ini yang terjadi maka akan merusak identitas Indonsia dan kehancuran bangsa ini. Masing-masing kelompok agama akan saling melakukan penetrasi agar ideologi agamanya menjadi dasar dalam kehidupan bangsanya.

Baca juga :  Ketempuhan di Kampus BLU

Di sinilah letak strategisnya, mengapa kemudian para the founding father bangsa ini menjadikan Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia. Pancasila memang bukanlah agama, tetapi Pancasila menjadi titik pertemuan kesamaan (kalimatun sawa) antar agama-agama yang ada di Indonesia. Dengan Pancasila, sumber, ajaran dan nilai dari masing-masing agama terakomodir dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Demikian juga, negara Indonesia menjamin akan pelaksanaan semua agama-agama itu dapat dijalankan dengan semestinya.

Dengan demikian, moderasi beragama itu mengharuskan adanya perspektif bagaimana agama itu dapat menjamin akan hak-hak kemanusiaan. Selain itu, pemahaman beragama senafas dan mendukung dengan ideologi keindonesiaan. Kemanusiaan dan keindonesiaan itulah karakter atau ciri dari moderasi beragama.

 

Suwendi

Kepala Subdit Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Direktorat Jenderal Pendidikan Islam

Bagikan

Berita terkait