Hmmm Segarnya Markisa dari Dataran Tinggi Gayo….

 Hmmm Segarnya Markisa dari Dataran Tinggi Gayo….

BENER MERIAH- Jalanan aspal mulus membelah rute Kabupaten Bener Meriah – Kabupaten Aceh Utara. Lalu lalang pengendara silih berganti.

Jalan lintas itu dibuka untuk umum dua tahun terakhir. Dulu, jalan itu hanya dilalui oleh mobil angkutan kayu pinus milik PT Kertas Kraf Aceh. Pinus dari Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah diangkut sebagai bahan baku pengolahan kertas ke pabrik PT KKA di Desa Jamuan, Kecamatan Banda Baro, Kabupaten Aceh Utara.

Jalan ini pula menjadi pendorong kawasan wisata di dua kabupaten –Aceh Tengah dan Bener Meriah–dataran tinggi tersebut. Petani memanfaatkan akses mudah itu membuka usaha baru. Menjual hasil pertanian untuk wisatawan.

Salah satunya terlihat di sepanjang kiri-kanan Desa Bale Musara, Kecamatan Permata, Kabupaten Bener Meriah. Di sepanjang jalan ini, warga mendirikan tenda dan pondok kecil di depan rumah.

Di tenda itu dijual aneka buah untuk wisatawan, sebagai oleh-oleh nan khas dari dataran tinggi. Buah paling diburu markisah.

“Kalau untuk masyarakat umum mereka tak akan beli. Biasa ini memang wisatawan yang beli, buat oleh-oleh pulang dari Aceh Tengah atau Bener Meriah,” sebu Uni Kasim, seorang pembeli yang ditemui KompasTravel.

Buah itu diikat menggelantung. Di gantung di pinggir jalan. Harganya Rp 25.000 per ikat. Sekitar dua kilogram. “Saya timbang itu dua kilogram. Tapi namanya buah pasti akan susut dari sisi berat. Kan dia layu juga kalua lama,” kata Uni.

Dia menjamin markisah itu manis dan segar. Pasalnya, langsung dibeli dari petani di desa itu. “Pohonnya jauh ke pegunungan. Kami beli setiap kali petani panen dan bawa pulang ke kampung,” katanya.

Untuk buah lainnya, seperti nenas, dan terong belanda, sambung Uni, dijual sesekali. “Nenas juga khas daerah sini. Tapi dia tidak ada tiap hari. Karena petaninya sedikit. Kalau markisah itu bisa ada tiap hari,” katanya.

Baca juga :  Dan Akhirnya, Museum Lhokseumawe Diresmikan

Dalam sehari dia bisa menjual 50 ikat buah markisah. “Kalau akhir pekan seperti Sabtu dan Minggu, itu bisa lebih banyak. Karena sebagian wisatawan dari kabupaten lain mengunjungi daerah ini akhir pekan,” katanya.

Ucapan Uni diamini seorang pembeli Hamdani. Menurutnya, kualitas markisah dataran yang dihuni suku Gayo itu terjamin.

“Buahnya terjamin manis. Seperti pedagang memilihnya. Tidak ada buah yang asam,” kata Hamdani.

Setiap kali ke Gayo, sambung Hamdani, dia singgah di Desa Bale Musara, Kecamatan Permata, Kabupaten Bener Meriah, untuk membeli oleh-oleh berupa buah.

“Bahkan buahnya tidak ada yang busuk,” kata Hamdani. Uni menimpali. Baginya berjualan harus jujur. “Saya pun kalau nerima buah busuk atau tidak bagus, pasti kesal. Begitu juga pembeli. Apalagi ini wisatawan pembelinya, itu bisa merusak citra pedagang seluruhnya,” katanya.

Gerimis mulai turun sore itu. Pelan-pelan kami meninggalkan pedagang. Di sana buah segar masih menggantung. Menunggu pembeli membawa pulang.

|KOMPAS

Bagikan

Berita terkait